25/02/2012

Masih Yakin

Demi kisah yang aku gemgam dalam perjalan ini
dan demi sebuah mimpi 
yang hampir menjadi bagian dari separuh ceritaku ini
maka bawa aku dalam kenyataan pahit ini
yang cukup sampai pada waktu 
yang sudah terlewati di masa lalu
        
        Aku terlahir dengan perasaan besar untuk kesekian kalinya
        dan aku ada untukmu untuk kedua kalinya
        maka lihatlah diriku yang dengan sabar dan tulus menantikan hadirmu


Ketetapan hatiku sama seperti masa indah itu 
dan aku kini ikrarkan buat mereka tahu 
bahwa aku senantiasa sabar menunggu 
dan agar yang lainpun melihat 
betapa hebatnya aku bertahan dalam keadaan tertekan
sementara cobaanpun datang dengan satu tujuan untuk menggoyakan
        
        Buatmu yang di sana 
        sesampainya aku pad akahir cerita ini suatu saat nanti
        maka akhirlah aku dengan senyum manis darimu
        sebagai tanda dari keinginanku dengan penuh kebesaran jiwamu
        bahwa kau ada untukku selamanya
        dan, akhiri pulalah perjalananku 
        dengan hadirnya dirimu di sampingku suatu saat nanti
        ketika mata ini tak sanggup lagi terbuka 
        untuk melihat indahnya dunia karena adanya dirimu


Buatmu yang di sana 
lihat, dengarkan, dan rasakan 
aku masih sendiri sama seperti dimana aku waktu itu 
dengan perasaan yang tak terbantahkan 
oleh waktu, rongrongan dan hujatan bahkan sindiran dan senyum kecut
dari mereka yang menertawakan dan menghakimiku
         
         Buatmu yang di sana 
         bahwa perjuanganku adalah kerelaan 
         bahwa perjuanganaku adalah keikhlasan
         dan bahwa perjuanganku bukanlah kesia-siaan


Tetapi perjuangan dan impianku adalah sumber pengahrapan 
akan kebahagiaan yang aku ingin rasakan 
denganmu dan denganku
bukan dengan yang lain yang tak ku harapkan

01/04/2011

Taman Hijau


10/02/2011

Sebuah Ungkapan

Sebuah ungakapan berisi sajak, puisi, dan curahan ...
:)

02/02/2011

Westernisasi Lebay

WESTERNISASI VERSUS EASTERNISASI
Oleh : anunkaseppasundan
Perkembangan informasi yang  cepat bahkan terkadang lepas dari kontrol baik oleh negara maupun oleh individu tertentu serta rendahnya pemahaman menjadi awal di mana gaya dan passion style maupun pola pikir masyarakat berubah. Isu Globallisme, Liberallisme, Kapitalisme atau bahkan Sekulerisme, selalu menyatu dalam bingkai Westernisasi di abad modern ini. Penguasaan informasi dan media oleh bangsa barat bukan tidak mungkin membawa pengaruh dari hal yang kecil sampai sekala yang besar. Peradaban yang lemah akan terhapus oleh peradaban yang kuat yang lebih dominan menguasai media. Seperti bangsa atau Negara Amerika dan Negara Eropa lainya yang menguasai hampir 65% media di dunia ini, mereka mampu menciptakan opini hanya dengan 1 hari atau bahkan beberapa jam dengan sebuah media televisi, internet atau bahkan media lainya. Isu Westernisasi terkesan seperti senjata untuk merubah dan menyatukan beberapa budaya atau pandangan menjadi satu kesatuan yang hegemonic untuk menjadi sama, baik dari aspek budaya, politik, hukum, teknologi. Pendidikan bahkan agama.

Apa Itu Westernisasi
Bukan tidak mungkin aku dan sebagian masyarakat lainya : berpendapat sama seperti dalam tulisan ini bahwa Westernisasi adalah pengaruh atau paham yang hendak menjadi budaya baru yang tercipta karena arus informasi atau bahkan tercipta karena sebaran atau tersebar baik itu oleh media elektronik maupun cetak yang datangnya dari bangsa barat, baik secara langsung atau bahkan tersamar. Dan westernisasi mempunyai pengaruh luas  dalam hal apapun, seperti yang tercamtum di atas yaitu :

Budaya, Politik, Hukum, Teknologi. Pendidikan bahkan Bahasa dan Agama

Kepercayaan diri yang rendah dalam suatu bangsa atau Negara, adalah target dimana westernisasi menjadi senjata untuk menyerang setiap kelemahan yang ada. Westernisasi mampu merubah sesuatu yang tabu atau bahkan “masih canggung untuk di ungkap” menjadi sesuatu hal yang biasa, pola pikir setiap individu mampu di rubah hanya dengan berbekal sebuah perangkat media informasi. Di tengah bangsa yang manjemuk westernisasi mampu beradaptasi dan menjelma menciptakan sesuatu seperti budaya yang baru dan kultur baru dalam masyarakat yang terseok dan kalah saing dalam bidang penguasaan media. 

Westerniasi Indonesia
Indonesia adalah Negara terhebat menuruku :  dimana ada berjuta suku dan karakteristik yang berbeda pula di setiap pendudukanya, dan Indonesia adalah negara dengan perkembangan perangkat media tercepat  di antara negara di kawasan Asean lainya. Seperti Jepang yang menerima budaya westernisasi namun tetap mepertahankan nilai2 luhur, karakterisktik dan norma serta berpegang teguh akan warisan budayannya. Sehingga adanya isu westernisasi di jadikan sebagai proteksi dimana negara mau tidak mau harus aktif untuk memberi kesempatan dan membantu sekuat mungkin budaya lokal atau kekuatan asli untuk tetap membumi.

Salah Kaprahnya Westernisasi
Sesuatu yang menyakut tentang kemajuan sering di artikan pula sebagai bagian dari akibat westernisasi, padahal sesungguhnya tidak.!!
Kemajuan tenknologi sering pula di artikan sebagai bagian dari westernisasi padahal sesunggulnya tidak!!!
Menurutku secara “pribadi :
Pada dasarnya kemajuan teknologi adalah tergantung dari kemampuan masing2 setiap bangsa atau negara akan SDM di masyrakatnya. Pengertian yang salah akan westernisasi yang selalu berhubungan dengan kemajuan adalah sesunggunya bohong besar. Karena sesungguhnya suatu negara atau bahkan bangsa lainya bisa menciptakan sesuatu yang lebih baik dan lebih maju dari bangsa barat tanpa harus meniru, dan bahkan berhak akan pengakuan dan legitimasi suatu tentang istilah “kemajuannya” baik dari segi teknologi budaya dan sesuatu yang mencakup gaya hidup. Bahkan sebaliknya jika mampu menguasai peradaban dan menguasai informasi di dunia kita bisa menggerakan paham Easteniasi terhadap budaya barat namun semua itu tergantung dari konsistensi kita dimana kita mau bersama2 bergandengan menguasai teknologi informasi dan sejenisnya. Tidak dapat di pungkiri karena faktor sesungguhnya, adanya penyebaran isu westernisasi adalah media informasi.
Diantara Westernisasi Ada Easternisasi
Masyarakat yang mengaku dirinya berbudaya timur sejatinya harus mampu menjadi masyrakat yang mampu memimpin dan membenamkan dirinya dalam segala aspek kekuatan dan kemajuan dan menjadikan budaya yang ada dan yang telah di pegang teguh untuk tetap mempertahankan ke aslianya dan menjalankan budaya aslinya dalam keseharian serta menjadikan pula budaya atau pengaruh barat sebagai budaya kritis dan penyeimbang bahkan pendorong dan motivasi untuk sebuah keselarasan dan memahami bahwa di samping kita ada budaya yang berbeda tanpa semuanya harus kita ikuti. Bukan dengan mencela dan menghujat dengan pikiran sempit. Apalagi harus dengan isolasi dari kepungan budaya barat.

Westernisasi, sesungguhnya bukanlah budaya “ia” (westernisasi) adalah seperti paham atau pengaruh atau cara keinginan untuk meniru budaya tertentu yang datangnya dari barat dan menjadikannya sebagai penguat ego di tengah perkembangan zaman akan peradaban baru dan menjadikanya “ia” sebagai gaya atau passion baru dalam berkehidupan dan bermasyrakat.

Kita bisa melawan westerniasi dengan Easternisasi yaitu memulai dengan suatu gerakan dimana gerakan tersebut adalah adanya penayadaran akan kesederhanaan hidup namun tetap dengan cara berpandangan maju. Tanpa harus meninggalkan budaya asli kita dan darimana kita berasal. Tidak sepenuhnya westernisasi mengandung unsur kehebatan di balik itu semua ada tempat dan ciri cara pandang yang berbeda karena pengaruh lingkungan dan adata istiadat. Sementara cara mereka yang kita ikuti terkadang tidak sesuai dengan suatu keadaan dan lingkungan di sekitar kita.

Opini pribadi ini tidak bermaksud bahwa penulis berhaluan atau bahkan tunduk terhadap sesuatu yang berhubungan dengan bangsa barat tetapi lebih kepada apa yang ingin di sampaikan bahwa kita  yang merasa berbudaya timur harus bisa menerimanya karena seiring perkembangan dunia, kadang kala budaya memerlukan suatu akulturasi atau percampuran sebagai rasa saling menghargai dan menyeimbangkan yang ada, begitupun yang terjadi di belahan negara barat lainya mereka berlomba melawan budaya timur yang dengan istilah dan santer saat ini di Eropa dan Amerika lainya tentang maraknya arus imigran dan isu islamisasinya serta terkenal pula dengan merebaknya isu Easternisasi yang di bawa oleh orang2 Asia pada umunya yang singgah dan bermukin disana. Mereka (Bangsa barat dan Amerika) melawan dengan Intelktualitas dan tetap dengan toleransi tinggi bukan dengan pandangan sepit atau picik bukan dengan lebaya atau berebihan.

Satu point dimana Westernisasi akan tercipta  bila suatu pemimpin atau bahkan individu masyarakatnya lengah dan tak mampu memfilter budaya barat untuk di ambil mana bagian dari yang positif dan mana dari bagian yang negative. Dan kuatnya penguasaan media oleh bangsa2 barat tanpa kontrol atau bahkan kesadaran dari masyrakatnya kadang begitu kuat pengaruhnya. Bahasa, gaya berpakaian dan cara berfikir dan pandangsn nyeleneh bahkan memutarbalikan fakta serta menjadikan sesuatu yang sebenarnya “benar” menjadi sesuatu yang di anggap “salah” dan sesuatu yang sebebarnya “salah” menjadi sesuatu yang di anggap “benar”. Itulah pembiasan salah dan pemahaman yang salah kaprah  dimana sebagian dari kita tidak memahami subtansi arti pengaruh dan pesan yang ingin di sampaikan oleh bangsa barat.

Bangsa yang unggul dan percaya akan kemampuan masyarakatnya mampu membedakan mana bagian dari westernisasi dan mana dari akulturasi.

By : daripenulisuntukberbagi

27/01/2011

Bisikan Gila

Admin mengundang kamu untuk mengirimkan sebuah / 1. Opini, dengan tema yang meliputi (hukum, budaya, politik, sosial, edukasi, teknologi, dan hiburan) 2. sajak/puisi, yang meliputi (percintaan, sosial, kehidupan, dan religi). dan Setiap opini atau puisi/sajak akan di tampilkan sesuai dengan aslinya. Syarat dan ketentuan opni atau sajak/puisi (1) minimal 4 alinea/paragraf murni dari pemikiranmu, dan bukan copy paste. (2) mengirimkan photo serta nama jelas. untuk hasil akhir tidak ada hadiah, semua di kembalikan kepada pembaca itu sendiri, bila mana setiap opini atau sajak/puisi mempunyai banyak komentar dari pembaca lainya dan komentar adalah yang mempunyai id "link" blog/website dan bukan anonim, akan di jadikan tren topic di Webblog "www.bakiakbutut.co.cc." /. Opini, sajak/puisi dapat di kirimkan ke ( anun_kasep[at]yahoo[dot]co[dot]id ) sekian dan terima kasih.
BISIKAN GILA
Oleh | Tubagus Arief Aditya
Penyunting/Editor | anunkaseppasundan


Salam Sejahtera,
Beberapa hari ini, curahan hati Presiden kita, Pak SBY, telah menjadi Trending Topic (pinjam istilah twitter) hampir disemua lapisan masyarakat. Di berbagai media, dijadikan bahan diskusi, dan artikel mengenai masalah ini bisa di baca hampir setiap hari. Hal ini bertransformasi dari sebuah "curhat" menjadi "isu Nasional", yang menjadi bola panas bagi si empunya curhat itu sendiri, Pak SBY.

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang sensitif dan reaktif, dengan berbagai permasalahan sosial yang ada di masyarakat, ucapan atau komentar dari para pemimpin negeri ini menjadi alat kita untuk menepatkan mereka di posisi yang salah. Hal itu tidak salah, mengingat kondisi sosial-ekonomi masyarakat kita tidak kunjung membaik dalam kurun waktu pasca reformasi. Curhatan SBY ini, dianggap sebagai ungkapan yang egois dan dangkal. bagaimana tidak, ketika sebagian masyarakat indonesia terjebak dalam kolonialisme versi modern (baca:penjajahan ekonomi) dan bergelut dengan kemiskinan, Presiden kita yang gajinya, konon mencapai 68 Juta, masih mengeluh tentang 7 tahun tidak naik gaji. yap, itu blunder yang fatal bagi seorang negarawan sekelas Presiden. padahal, data KPK terakhir, kekayaan Jendral Bintang 4 TNI ini mencapai 3 Milyar lebih. 
Mungkin kurang lebih itu pemikiran kebanyakan orang....

Berbagai reaksi, yang kebanyakan penolakan, terjadi sebagai implikasi dari pernyataan tersebut. bahkan anggota DPR-RI berinisatif mengumpulkan koin untuk Presiden sebagai bentuk sindiran. Politisi sekelas Akbar Faisal (F-Hanura) atau Bambang Soesatyo (F-Golkar) tidak segan-segan menyebut Presiden tidak memperhatikan asas kepatutan sebagai seorang kepala negara. DPR-RI sepakat dengan rakyat, menganggap bahwa statement Presiden sebagai statement yang tidak tepat dan salah tempat. Dan itu menjadi tekanan politis, karena anggota DPR-RI pun menjadi barisan terdepan yang bersuara lantang menentang Curhatan Pak Beye. yah selama ini, berbagai kebijakan pun yang niatnya konstruktif dari Pemerintah, banyak ditentang oleh anggota dewan, apalagi jika sang pemimpin pemerintah dan pemimpin Partai pemenang Pemilu, salah bersuara, maka hal itu merupaka santapan empuk bagi mereka.

Dilain pihak, ada hal lain yang unik, ternyata tidak semua pihak menentang curhatan Pak Beye, Depkeu pimpinan Agus Martowardjojo misalnya, pasca curhatan pak Presiden, Depkeu langsung sibuk menggodok kebijakan kenaikan gaji para pejabat (dimana Presiden termasuk didalamnya). Depkeu menyatakan, bahwa rencana ini sudah di bahas 3 taun yang lalu ketika Depkeu masih dibawah pimpinan Ibu Sri Mulyani. namun, 3 taun atau baru kemarin, ide kenaikan gaji pejabat hanya beberapa hari setelah prseiden curhat, agaknya pantas dicurigai. entahlah, mungkin itu bentuk loyalitas yang terlalu loyal dari jajaran kementrian keuangan.

Namun, mari kita sedikit membuka pikiran akan hal ini. saya tidak membela siapapun dalam hal ini, hanya saja, saya sama sekali tidak menanggap curhatan SBY tentang gaji itu sebagai pernyatan politis atau pernyataan keberatan. namun, hal ini di politisasi oleh lawan politiknya, dan dijadikan moment mengambil hati oleh para pendukungnya. Bagaimana seandainya kita melihat dari perspektif bebas lainnya,  mungkin saja kondisinya pak Beye mengeluarkan statement 7 ta   tahun tidak naik gaji bukan karena dia ingin naik gaji, tapi mungkin statement ini bisa dibaca seperti ini "saya tujuh taun tidak naik gaji, tetapi saya tidak mengeluh". mungkin pak Beye ingin menunjukan semangat keikhlasan dalam bekerja, bukan ingin menyatakan bahwa gajinya kurang. setau saya, SBY adalah presiden yang amat sangat menjaga citra, baik itu dari tingkah laku maupun ucapan. politik pencitraan yang dijalankan SBY selama ini terbukti berhasil membawa SBY duduk sebagai Presiden RI selama 2 periode. Jika pencitraan itu masih merupakan bagian dari strategi politik SBY, buat saya aneh jika SBY curhat ingin naik gaji pada sebuah Pidato yang mengundang banyak media dan didepan banyak orang. mungkinkah SBY sudah tidak peduli dengan citra dirinya? saya pikir tidak, politik pencitraan SBY selama 7 taun memimpin nyaris tidak berubah. SBY adalah tipikal pemimpin yang sangat peduli terhadap self-image dalam kapasitasnya sebagai presiden. Lalu SBY curhat ingin naik gaji didepan media? hmm..no chance. 

Sekali lagi saya tidak membela siapapun, namun hal ini mengindikasikan 5 hal. 
Pertama, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang reaktif dan sensitif, apalagi terhadap masalah uang. Dengan kondisi sosial-ekonomi yang terjadi di Indonesia, bagi rakyat, agaknya kurang pantas jika pejabat pemerintah ingin naik gaji. 
Kedua, manuver lawan politik SBY dan Partai Demokrat benar-benar mencari celah untuk meruntuhkan dominasi politik pencitraan SBY maupun partainya. saya pikir, mereka langsung menyimpulkan statement SBY sebagai bentuk pengkhianatan terhadap asas keadilan masyarakat. pengumpulan koin untuk SBY, merupakan contoh serangan politis konkrit lawan-lawan SBY terhadap figur SBY. ini pun menunjukan bahwa koalisi ditubuh pemerintah tidak berjalan baik, melihat banyaknya politisi dari partai koalisi yang berani menyerang SBY secara verbal.
Ketiga, Hal inipun menunjukan respon orang-orang dekat SBY yang begitu bersemangatnya cari muka. padahal periode ini Kabinet SBY akan berakhir, dan mungkin akan terjadi pergantian dijajaran kementrian. 
Keempat, entah apakah SBY sudah tidak peduli terhadap citra atau SBY sudah capek terkungkung dalam politik pencitraan yang begitu membarikade SBY dalam bertindak, sehingga pak beye mulai tidak mempertimbangkan implikasi ucapannya di depan umum, meskipun mungkin niatnya tidak demikian.
Kelima, ini merupakan santapan Media yang begitu berapi-api menghadirkan diskusi, berbagai narasumber, yang berpotensi menghadirkan perdebatan agar rating acaranya naik. biarpun beritanya kadang tidak berimbang dalam menggiring opini publik

Indonesia merupakan negara yang bisa diibaratkan rumput kering, ketika ada sedikit api, maka akan mudah terbakar..kita tidak perlu melihat prilaku reaktif masyarakat lewat tawuran pelajar misalnya, namun panggung politik indonesia, yang isinya manusia-manusia cerdas,  menunjukan sesuatu yang sebenarnya lebih menarik dan fatal akibatnya ketimbang tawuran pelajar.

31/12/2010

Patriotisme Garudaku

LOYALITAS VERSUS PATRIOTISME
Oleh : anunkaseppasundan
Lihatlah bagaimana ketika lautan manusia berpadu menjadi satu menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, semua pandangan mata dan pikiran tertuju pada satu kekuatan manusia yang berjumlah 11 orang, seolah-olah mereka adalah para pemimpin yang di agungkan dan di puja, kekuatan yang ada pada mereka mampu menyatukan semua pola pikir manusia Indonesia untuk bersatu melupakan sejenak permasalahan yang terus menerus menjadi menu keseharian.

Kekuatan, Keyakinan, dan Kemampuan, mereka curahkan untuk sebuah persembahan yang terbaik bagi rakyat Indonesia, bak gayung bersambut, apa yang mereka perjuangkan mendapat aplus dari seluruh rakyat Indonesia, dari sabang sampai Merauke, dari Sambas sampai pulau Rote semua rakyat Indonesia yang di Timur dan di Barat, di Selatan dan di Utara bersorak sorai mendoakan dan berharap bahwa di pundak para pejuang pasukan garuda yang sedang berjuang di Final Piala AFF dapat mewujudkan impian rakyat, yaitu Indonesia bisa menjuarai Piala AFF 2010 yang di adakan 2 tahun sekali ini.

AFF atau Assean Federation Football adalah laga pertandingan sepak bola antara di kawasan Asia Tenggara, dan Indonesia adalah Negara dengan jumlah Pulau, Rakyat maupun Klub sepakbolanya adalah yang terbesar di antara Negara-negara ASEAN lainya, hal ini tentunya akan menambah kebanggan tersendiri jika Indonesia mampu menjadi juara di pentas piala AFF 2010 sekaligus yang pertama dalam sejarahnya.

Namun apa yang terjadi ketika waktu yang di impikan tersebut jauh dari yang di harapkan ternyata di luar dugaan, Indonesia di kalahkan dalam laga kandang Malyngsia dengan skor mutlak 3 - 0 untuk Indonesia, tentunya hal ini membawa pengaruh besar betapa rakyat seolah di buat bimbang apakah Indonesia mampu menjadi apa yang rakyat Indonesia impikan. Namun sebagian melihat dari kacamata jernih bahwa apa yang di perbuat para pejuang pasukan garuda sudah tentu jauh lebih bagus karena perjuangan pasukan garuda adalah perjuangan sejati dengan suatu perjuangan alami tanpa kecurangan, rakyat Indonesia memaklumi bahwa kekalahan di laga kandang Malyngsia di karenakan faktor utama adalah mental para pejuang garuda yang lemah dan konsentrasi yang membuyar, hal ini di akibatkan sinar laser oleh para suporter anjing-anjing Malyngsia.


Rakyat Indonesia tetap bangga kepada mereka (pasukan garuda), karena sportivitas dan penghormatan mereka akan tuan rumah Malyngsia sebagai penyelenggara pertama di final piala AFF ini. Kalaulah saja jiwa patriotisme para pejuang garuda benar2 berkorbar tentu mereka akan dengan hati menghentikan dan walk out dari lapang hijau tersebut. Tetapi sungguh bijaksana?? apa yang terjadi mereka memupuk dan menyimbapan jiwa patriotisme mereka untuk di kumpulkan dan balik menyerang Malyngsia di kandang Indonesia. Sungguh ini perjuangan mulia betapa pemikiran moderat ada pada para pejuang pasukan garuda. Dan pemikiran konsrvativ ada para pejuang Malyngsia yang dengan piciknya mereka bak anak kampungan menggunakan segala cara untuk memenangkan pertandingan tersebut walau harus dengan sebuah tanda “kecurangan” dan pengkhiantan terhadap ikrar piala AFF. Padahal menurutu anak kampungan saja tidaklah seperti itu, lalu darimanakah para pejuang malyngsia dan anjing2 supporternnya tersebut ?? jawabanya kalau bukan dari kampung mereka berasal dari hutan yang dengan primitifnya baru mengenal “laser” lalu dengan se enaknya menggunakan cara2 kotor di bawa kemedan arena semegah dan sehabat pertandingan pinal AFF untuk di pertontonkan bahwa dan seolah ingin mengatakan “ini lho kami punya laser, lihat jangkauanya jauh sekali sampe jauh mengenai pemain Indonsia” tapi mereka menyadari bahwa apa yang mereka perbuat membawa kerugian bagi mereka, yaitu di adanya sangsi dari presiden AFF bahwa Malyngsia tidak dapat menyelenggarakan pertandingan sepak bola selama kurun waktu 4 th. Hahahahahahaha..

Di laga kedua pertandingan di awali dengan sebuah nyanyian kedua Negara, di menit pertama Lagu kebangsaan Malyngsia di nyanyikan, namun apa yang terjadi?? Suaranya kecil bahkan nyaris tak terdengar sama sekali betapa kecil jiwa patriotisme supporter Malyngsia mereka tidak mampu menyanyikan lagu tersebut karena lemahnya dan takutnya mereka terhadap rakyat Indonesia,  tapi bayangkan ketika laga pertama di Malyngsia suporten Indonesia masih berani memukau tuan rumah Malyngsia dengan menggemanya nyanyia tersebut, dan lebih menggema lagi ketika nyanyian tersebut ada di Gelora Bung Karno tepatnya laga ke dua di finall AFF tgl 29 Desember 2010. betapa menggegarnya suara nyanyian Indonesia Raya yang di lantunkan supporter Indonesia yang hadir. Hal ini membuat haru sekaligus bangga bagi para pejuang garuda. Dan suporter Indonesia tentunya.

Walau kalah aggregat 2 - 4 tetapi di laga kandang kedua ini di Indonesia, Indonsia tetap manang hanya saja kalah tertinggal di laga pertama. Tak ada kecewa tak ada ragu bagi rakyat Indonesia untuk tetap mendukung pasukan garuda karena kemenangan sesungguhnya ada pada kita pasukan garuda dan supoter Indoanesia karena kita bermain dan menyaksikan dengan soprtivitas tinggi dan menjujung nilai2 yang di bawa AFF dalam laga pertandingan ini.

Tetap semangat pasukan garudaku esok masih ada hari untukmu berjuang.

"Kalah terhormat lebih baik dari pada menang dengan pengkhianatan”
Wahai garudaku tetap semangat dan yakinkan dirimu bahwa esok engkau akan menjadi juara, juara yang lebih dari juara.
Wahai garudaku dan para suporter, ingatlah bahwa kita lebih terhormat dari pada anjing2 Malyngsia yang berkhianat

# Bravo Indonesia aku tetap bangga padamu # 

04/11/2010

Pray For Indonesia

RENUNGAN SEMU 
Oleh : anunkaseppasundan 

Oh Tuhan!!!!
Apa dosa negeri ini, apa-apa ???' ………..
Begitu banyak musibah silih berganti, tak memandang siapa yang akan menjadi korban dan seolah menjadi tumbal dari tragedi demi tragedi ini. 20 nyawa hilang tenggelam sia-sia di kepulauan Bintan-Natuna, 5 nyawa lebih anggota dewan mati sia-sia terhempas ombak di kepulauan Bunaken. 100 lebih nyawa hilang sia-sia karena banjir di Tanah Wasior Papua, 100 lebih nyawa hilang sia-sia karena meletusnya Gunungnya Merapi menciptakan tangis dan duka dimana-mana, 100 lebih lagi nyawa hilang sia-sia karena Gempa dan Tsunami di Mentawai, Sumatera. 10 nyawa hilang sia-sia karena isu sara di Tarakan, Kalimantan antara suku Dayak, Madura dan Bugis. 2 nyawa lebih hilang sia-sia karena aksi demi aksi di Pengadilan Tinggi Jakarta akibat dari sengketa Kasus Blowfish, Tragedi penghinaan akan di tahanya presiden  oleh pengadilan Internasional di Denhag Belanda. Amblasnya beberapa jalan di kota Jakarta. Dan parahnya kemacetan kota Jakarta yang tak pernah berhenti sepanjang waktu, menciptakan rasa frustasi pada masyarakatnya, dan orang-orang gila-pun bertambah tampa di sengaja. Terbakarnya hutan di Sumatera menambah malu negeri ini di mata dunia karena mengekspor asap yang tak henti-hentinya, Tragedi Penghinaan yang terus berlangsung oleh Malnysia karena keraguan yang terus di pelihara. Dan banyak musibah di negeri ini yang masih samar-samar tak di ketahui rimbanya.
Oh Tuhan…
Mungkin aku termasuk bagian dari masyarakat negeri ini yang menangis dan bersedih, tentang apa yang sebenarnya terjadi. Beribu darah dan tangis mengalir di mana-mana seolah tak mau beranjak pergi untuk meninggalkan negeri ini. Jeritan melengking seorang anak kecil meronta-ronta memanggil ibunya yang telah tiada, dan di ujung tempat lain sahutan sang ibu memanggil anaknya cukup terdengar lirih karena lelah tiada berharap lagi,

Oh Tuhan…
Apakah darah dan air mata seolah teman setia yang harus singgah di negeri yang katanya Indah dan kaya seperti Indonesia ini???

Oh Tuhan…
Bukankah setiap tragedi adalah musibah dan setiap musibah adalah hikmah, lalu kapankan kita bisa melihat dan merasakan hikmah itu ada???,

Oh Tuhan…
Kami hanya berharap kepadamu, tentang bagaimana engkau tetapkan kami sebagai rakyat Indonesia untuk tetap bersabar dan menunggu sesuatu yang takjub darimu, bukankah engkau Maha Mendengar dan Melihat dan bahkan Maha Merasakan, tentang apa-apa yang di alami oleh setiap hambanya???

Oh Tuhan hari ini…..
Ketika satu peristiwa berhenti untuk menjadi topik dalam berita, maka topik lain datang untuk menyapa, lagi-lagi adalah kabar tragedi yang meminta tumbal nyawa lagi,

Oh Tuhan…
Ku tak tahu, apa yang akan ku katakan lagi?? karena satu peristiwa saja sudah cukup bosan buatku mendengarnya lagi, peristiwa demi peristiwa atau tragedi demi tragedi, seolah berkeinginan menjadi santapan pagi setiap hari, padahal bukankah Kau tahu selalu ada di sekeliling kami tentang cerita dan cita dari orang-orang yang meimikirkan dunia bahwa bagi mereka yang pandai berdusta :

“Bahwa waktu dan kesempatan yang ada adalah harta yang paling berharga. (Bukan sujud atau berdoa agar musibah itu tidak ada)”, ???

Oh Tuhan….
Jika memang Kau sapa kami dengan cobaan ini agar kami semakin mendekatkan diri kepada-Mu dan senantiasa mengingatmu, maka Biarkanlah mereka yang masih angkuh akang teguranmu untuk tetap membiarkan mereka Puas….Puas..Puas….Puas!!!!
Asyik dengan dunianya sendiri sampai ku relakan engkau menegurnya dengan satu salam “cobaan yang lebih dahsyat lagi”,…..
Karena satu salam “cobaan” saja yang berada di halaman sebelah seperti tak nampak membuat mereka sadar dan terketuk hati untuk menyadari tentang setiap tragedi ini bagaimana terjadi,

Oh Tuhan….
Kami tak pernah tahu maksud apa Tuhan memberi cobaan ini???
Yang kami tahu setiap cobaan yang kau beri,

“kami hanya bisa melihat apa yang sedang terjadi tanpa mau mengerti”.

Oh Tuhan…
Lewat tulisan ini ku sapa Engkau tentang bagaimanakah kami meminta kepada-Mu untuk tetap  diberi kesabaran kepada kami dan mohon hentikan semua cobaan ini

Oh Tuhan…
Lewat curahan ini akan kutitipkan salamu pada manusia-manusia  yang teramat alpa akan keberadaanmu bahwa seperti yang engkau firmankan dalam kitab sucimu

“Bahwa Hidup Hanya Sekali”

Oh Tuhan…
Terima kasih sampai detik ini kau beri aku dan sebagian rakyat Indonesia waktu, untuk menyematkan apa yang menjadi amanah darimu, bahwa hidup yang Engakau beri untuk di syukuri bukan di ingkari dengan kesibukan dosa-dosa duniawi!!!

Oh Tuhan…
Biarkanlah  yang bersujud tetap bersujud kepadamu, dan yang berlari tetap berlari.
Tetapi biarkanlah yang diam untuk tetap diam, agar yang berlari mau mengertii..


By : daripenulisuntukberbagi...

15/10/2010

Bangsat Demokrasi


BANGSAT DEMOKRASI
Oleh : anunkaseppasundan
Aku berdiri menyaksikan wajah-wajah garang menghiasi kursi-kursi dewan atau kekuasanan lainya, garang bukan dalam arti sesungguhnya, garang disini lebih bersifat wajah garang yang dalam artian bahwa mereka sangat berambisi dan haus untuk selalu duduk di atas kursi empuk, memang siapapun yang sudah terlena akan nikmatnya menjadi seorang penguasa paling tidak ke alfaan itu ada, apalagi jika yang terpilih adalah orang-orang pintar dalam hal tender proyek bukan sesuatu yang mustahil jika tanda tangan untuk sebuah bukti pun tak masalah yang penting amplop sudah di tangan.

Ketika satu masa kekuasaan jatuh pada satu manusia yang lebih mementingkan selembar amplop ketimbang sebuah amanah di ujung jari, maka yang terjadi adalah perampokan akan kepercayaan dan maling-maling demokrasi siap berkhianat terhadap konstitusi yang sudah menjadi tempat berteduh bagi rakyat, demokrasi memang mempersilahkan siapapun untuk bisa duduk di atas kekuasaan,  tetapi ketika demokrasi itu salah memilih penguasa maka yang terjadi adalah hilangnya kepercayaan yang di awali dengan sebuah peraturan yang memetingkan pribadi ketimbang kepentingan hajat hidup orang banyak.


Kekuasaan yang di salah gunakan lambat laun akan membunuh kewajaran, peraturan-peraturan akan di buat sedemikian rupa demi sebuah kalimat tentang “kelanggeungan” dan hajat hidup orang banyak bukan lagi sebuah prioritas untuk di nomor satukan tetapi yang terjadi adalah bahwa kepentingan pribadi adalah dewa terhebat yang membahagiakan diri sendiri dan golongannya. Banyak sudah sejarah kelam dalam republik ini ketika satu pemimpin menjadi seorang diktator maka kepentingan pribadi menjadi sebuah primadona yang tak boleh di lewatkan, dan dalam kasus seperrti ini Negara seolah memelihara bangsat demokrasi atas nama kepemimpinan walaupun yang sedang memimpin adalah tikus tengik yang menggerogoti kepercayaan rakyat, memang demokrasi adalah pilihan terbaik ketimbang sebuah monarki, tetapi ketika rakyat tidak jeli memilih seorang calon pemimpin darimana  dan bagaimana waktaknya, bersiaplah bahwa peluang untuk mendapatan seorang bangsat demokrasi sangat terbuka lebar, demokrasi bukan memilih kucing dalam karung demokrasi adalah penyampai amanah dari rakyat yang berharap akan adanya sebuah perubahan bukan sebuah kemelaratan.

Demokrasi bukan tempat mencari garong kekusasan, demokrasi bukan tempat untuk mencari orang-orang bejad yang akan duduk di kursi kekuasan, dan dalam sejarahnya demokrasi sedikitpun tidak mempersilahkan maling-maling pengambil kepercayaan rakyat untuk duduk berleha-leha ketika rakyat yang di bawah menderita, tetapi demokrasi menempatkan dan mecari orang-orang yang mau dan rela berkorban untuk kepentingan dan kemaslahatan rakyat banyak bukan golongan atau individu yang menjadi kepantasanya!!!


By : daripenulisuntukberbagi...

13/10/2010

Cecunguk Urban & Urbanisasi

KAUM URBAN DAN CECUNGUK KOTA
Oleh : anunkaseppasundan

Aku pernah datang ke kota ini lebih dari 20 tahun yang lalu, namun aku baru merasakan bahwa aku bisa tinggal hinggá beberapa waktu lama setelah 2 tahun ini. Bagiku Jakarta adalah garda terdepan dari bangsa ini untuk menampilkan diri di mata dunia bahwa indonesia punya kebanggan akan Ibukotanya. 

Jakarta adalah magnet terkuat yang menarik lebih dari sejuta mata untuk datang dan berharap akan sesuatu yang lebih baik. Jakarta seperti kota fenomena yang meng-sugesti setiap mata untuk turut serta hadir di dalamnya, Jakarta adalah ibarat emas yang menggunung yang menjajikan kekayaan dan sarat akan kekuasan, Jakarta adalah umpan terhebat bagi kaum urban yang berambisi meraih mimpi, Jakarta menjadi pemicu dari sekian puluh juta pasang mata untuk membuat sebuah rekayasa akan urbanisasi yang tidak di kehedanki. Dan semakin banyaknya dan tak terkedalinya akan urbanisasi ini menjadi corong gelembung bumerang akan reputasi sang gubernur untuk menata dan mengelola.

Namun semakin aku merasakan dimana aku tinggal, kenyaman dan kebangganku terhadap Ibukota semakin menipis walau kusadari bahwa sesungguhya aku bukanlah pednduduk asli atau bahkan lahir di Ibukota ini. Hilangnya kenyamanan akan kebangganku terhadap Jakarta dan setatusku sebagai kaum urban seolah kian menipiskan rasa semangatku untuk bisa merasakan sebagai perantau sejati seolah hilang tanpa kesan.

Kerakusan, ketamakan, dan kecokakan yang selama ini ada di benak para kaum borjuis yang mengekploitasi Jakarta, kini berbalik menjadi sebuah dilema yang tak berkesudahan, keindahan yang di gemborkan lewat pembangunan mall – mall besar, hotel – hotel berbintang dan gedung – gedung pencakar langit, dan pembangunan hutan kecil yang tak se-alami ternyata tak cukup menghilagkan panas dan berasapnya kota Jakarta, keadaan yang di buat sedemikian rupa hanya untuk mengejarkan keuntungan sesaat lewat pembangunan yang terus berlangsung tanpa memperhatikan kebutuhan bumi Jakarta itu sendiri akhirnya menjadi sebuah keniscayaan bahwa malapetaka akan kerusakan alam itu semakin nyata terasa, bajir, gempa, dan maraknya pendirian rumah – rumah kumuh, eksploitasi kemiskinan yang di tampilkan di jalanan semakin banyak, dan amblasnya beberapa daerah di sebagian Jakarta akibat erosi dan abrasi, hilangnya lahan resapan, dan karena kurangnya pengolaan sanitasi dan kurangnya perhatian akan keadaan air dan lingkungn di Jakarta semakin memperparah kedaan ini, tentunya keadaan ini menjadi rasa panik yang berlebihan bagi mereka kaum borjuis yang punya segudang kemewahan mall – mall besar, hotel berbintang dan gedung pencakar langit menjulang tinggi, dan kepanikan juga menyerang mereka para aparat birokrat seolah ketakutakan akan adanya kesan ketidak becusan dalam menjalankan dan megolala Jakarta semakin nampak.

Mata silih berganti memandangan gedung pencakar langit yang sulit didapatkan dari tempatnya berasal, dan hilir mudik kaum urban tak henti – henti membawa kisah antara manis dan pahit, cerita sukses beberapa pasang mata seolah menjadi pemicu kenapa mata yang lain ingin melirik untuk menyambangi, dan cerita pilu akan kerasnya kehidupan kota Jakarta menjadi anggapan seperti asap yang akan hilang dan berlalu. Padahal sesunggunya banyak kisah lebih pilu dan mengerikan dimana bisa saja yang kaya menjadi seorang pembunuh berdarah dingin ketika kemewahan yang dimikinya hilang dengan sekejap, karena di Jakarta ini banyak penjudi yang menggadaikan harga diri untuk mimpi yang belum pasti. dan di Ibukota ini menjadikan hal yang tak mungkin menjadi mungkin adalah hal yang lumrah, bagaimana tidak seorang gelandangan bisa menjadi seorang konglomerat jika ia mampu bertahan dan berusaha meraih mimpinya dengan kesabaran dan keuletan dalam bekerja, tinggal dimana posisi simiskin ini berusaha dan memilih apakah di jalan yang halal ataukah haram.

Aku sendiri memandangan bahwa Jakarta adalah etalase utama penyampai tentang bagaimana Indonesia di mata dunia, jika kesemrautan lebih besar maka tak lebih ia seperti kaca pecah yang tak terurus dan tikus kecoa seperti mall – mall, hotel berbintang dan gedung – gedung pencakar langit tinggi menjulang yang tak memperhatikan tata letak menjadi kotoran dalam keindahan sesaat, jika keadaan seperti ini terus dipelihara akan menjadi duri dalam daging dan cukup malukah dan  miriskah kita melihat bagaimana ketika mata dari negeri lain seolah sungkan untuk berinvestasi dan membeli, ”pikiran mereka jangankan ingin mampir, untuk melewati saja rasa – rasanya sungkan”. 

Jakarta akan menjadi kota yang percuma menjadi Ibukota saat keadaan yang semraut dan kemacetan merajalela dibiarkan tanpa ada solusi yang terbaik. Dan kesenjangan yang menguasai akan menjadi pamantik yang meledakan jumlah angka antara kehidupan simiskin dan sikaya. Dan budaya krinminalitas akan menjadi kultur yang tertecipta tanpa kesengajaan.

Bukan salah Jakarta sesunggunya tetapi kesalahan yang sesungguhnya adalah mata di dalamnya yang mengurus dan mengelola, Jakarta tetaplah indah baik dari nama dan ke Ibukotaannya, yang buruk adalah mata yang mengurus dan tak becus sehingga membuat kesan bahwa Jakarta adalah kota indah di atas kesemrautan yang menggila.  Mata – mata dari kaum urban akan terus berlangsung selama mata di dalamnya yang mengurus Jakarta tidak memberikan rekomendasi bagaimana dan dimana seharusnya para investor itu menanamakan modalnya, ke rakusan di benak para mata di dalamnya akan stigma bahwa Jakarta harus menjadi kota segala – galanya menjadi biang dimana adanya kaum urban itu terus bertambah. Jika sudah seperti itu siapakah yang salah kaum urban ataukah mata pengelola Jakarta?”” heum....


By : daripenulisuntukberbagi...

Manusia Linglung

JALAN BERLIKU UNTUK PRESIDENKU
Oleh : anunkaseppasundan

Diantara jalan yang panjang membentang, Indonesia sedang melewati sebuah jalan teramat berliku, dan terlihat bombastis saat satu isu melangkah menjadi seribu masalah yang kian mendera. Seperti gerimis yang tetes demi tetes, problematika dan corat marutnya tata pengelolaan masalah semakin menambah daftar panjang begitu negeri ini teramat sukar untuk di katakan sebagai negeri adem ayeum.

Keterpurukan negeri ini semakin nyata saat sang pemimpin tak lagi mempunyai hak legitimasi terhadap kewibawaannya, penghinaan, pengejekan, pe “ngeyelan” dari negeri sebrang di ujung sana, seolah hanya di anggap hal kecil yang tiada berarti. Sadar atau tidak sebenarnya bagi kami rakyat kecil hal seperti itu adalah perusakan kedaulatan akan kewibawaan pemimpin bangsa. Dan perusakan kedaulatan akan harga diri bangsa. Dimana rakyat tidak menginginkan pemimpinnya menjadi subjek perumpamaan dari hal yang konyol dan terkesan rendah. Namun tetap saja rasa tak peduli itu muncul dari diri sang pemimpin untuk menanggapi dengan keras hinaan dan plecehan tersebut, jika sudah seperti  ini. sesunggunya ke angkuhan dan kesombongan tersebut bukanlah milik Negeri yang di seberang sana tetapi milik sang pemimpin kita yang tak peduli dan tak mau mendengarkan akan emosi rakyatnya karena melihat dia, "pempimpinnya dan kedaulatan negaranya "menjadi objek cacian dan hinaan. 

Akhirnya anggapan akan kesimpulan terhadap sang pemimpin itupun muncul seperti aku dan sebagian rakyat lainya mengatakan “bagaimana mau peduli terhadap teriakan rakyatnya jika dalam dirinya saja di hina, ia acuh tak acuh untuk menanggapi”.

Jalan memang masih panjang, dan Indonesia butuh proses adaftasi akan kewibawaan bagaimana  Negara ini bisa lebih di hormati dan di segani di dataran Asia Tenggara atau bahkan level Internasional akan segala sistem dan kepemimpinannya. Namun jika di tengah perjalan setiap hinaan dan ejekan itu dianggap hal yang basi bukan tidak mungkin Negara kita akan tertahan dan terombang-ambing dalam kebingungan untuk menanggapi, karena tidak adanya ketegasan dari sang pemimpin untuk menyelesaikan hinaan tersebut, dan bukan tidak mungkin lagi jika kelembekan dan rasa ragu dan rasa seolah kita bergantung akan Negara penghina tersebut bisa menjadi batu sandungan untuk membangun kredibilitas dan kewibawaan, dan tentunya setiap plecehan akan terus berulang dan berulang. Karenanya jangankan untuk berperang menggertak saja sudah tidak berani, maka tak heran jika Negeri seberang di ujung sana ibarat anak kecil yang tak mengerti dan dengan kengeyelanya akan terus berulah.

Setiap kali berpidato dengan kegagahanya dan tuturkatanya yang teratur. Dan dengan kewibawaanya di mata para bawahnya ia sesekali menguraikan pentingnya menjaga sebuah eksistensi keutuhan NKRI. Dan NKRI adalah harga mati. Pertanyaanya, bagaimana mungkin kita bisa menjaga keutuhan akan kedaulatan jika di dalam diri sang pemimpin saja tak bisa melawan akan hinaan dan ejekn tersebut. Bila keadaan seperti ini terus di pelihara maka tak ubahnya persidangan demi persidangan, dan pidato demi pidato seperti ini adalah ritual pamer kewibawaan.


Ketika satu satu isu menjadi sesuatu yang ramai di perbicangkan, dan ketika isu itu pula membuat gerah para pemimpin yang cenderum ragu dan banyak pertimbangan, maka jawabanya adalah meredam, agar gejolak yang ada di harapkan tidak mengusik lagi, jawaban untuk meredam bukanlah sebuah gertakan tetapi dengan menonjolkan sebuah simbol kenegaraan yang berbau kemiliteran, walaupun sesunggunya bahwa antara tempat yang dipilih dengan isu yang akan di jawab sungguh berbeda jauh dan jauh dari yang di harapkan. ke adaan seperti ini tak lain adalah cara berpikir yang membingungkan, kalau sekiranya momentum untuk menjawab sebuah isu yang krusial namun hanya sebatas pidato yang datar-datar saja alias normatif lebih baik berpidatolah di rumah bukan di barak militer yang konotasinya terkesan menggelorakan perang.


(Editan belum sempurna)