Showing posts with label Opinimu. Show all posts
Showing posts with label Opinimu. Show all posts

07/12/2016

Fenomena Irasional Manusia Nusantara

Fenomena Irasional Sekelompok Manusia Nusantara
Oleh : Muh. Sodiqu Anwar
Mahasiswa Pascasarjana STAINU

Dijagat nusantara baru saja dihebohkan oleh pemberitaan tertangkapnya AA gatot brajamusti  karena tersandung kasus narkoba dan pesta seks yang melibatkan kalangan artis ternama. setelah pihak kepolisian mengusut lebih dalam lagi, kasusnya berkembang ke kasus lain. mulai memiliki senjata ilegal hingga mendalami aktifitas AA G  yang selama ini dikenal dengan profesi  menjadi guru spiritual para artis dan beberapa pejabat republik. dia dikenal sebagai sosok yang sakti yanf menjadi raja jin dan kenal akrab ke beberapa malaikat. aneh memang.

aneh bin ajaibnya , ternyata banyak juga yang menjadi santri sekaligus korbannya. ragam kerugian yang dialami mulai dari keperawanan, harta. walaupun sebenarnya negara jugabikut rugi, terbukti ada beberapa pejabat setor uang hasil rampokan APBN untuk kebutuhan pembangunan padepokan AA. ketika korban ditanya, alasannya ingin minta doa restu dan deklarasi menjadi muridnya dengan harapan segala hajad urusan karir( artis, jabatan) dibantu dengan kekuatan magis. pertanyaanya kok masih ada yang percaya dengan usaha irasional.

Sambil Sruput Kopo dan Ngudut
diskusi menyasar ke kasus Dimas kanjeng taat pribadi. fenomena ini lebih gila lagi, ditengah terpuruknya ekonomi global hingga berdampak pada ekonomi domestik indonesia, dimana semua negara kelimpungan memburu uang dari pajak, jual minyak, investasi, utang luar negeri dll. kanjeng yang satu ini hadir bak dewa uang. memang dewa uang yang mempunyai keahlian menggandakan Uang.

lagi-lagi dewa ini promosi kesaktian, gelombang pecinta irasional tertarik dan berdatangan menjadi santrinya. para pengikutnya dari berbagai daerah dan latar belakang. eh perlu diketahui juga lo. pengikutnya ada juga dari kalangan alumni organisasi ternama di indonesia. hehaha.

ajaranya pun simple suruh mengamalkan dzikir  solawat fulus, dan setor uang berapapun uang yang mau digandakan. untuk mendukung prakteknya, kanjeng dimas saat melakukan ritual penggandaan uang di abadikan dalam bentuk vidio, disebar di media sosial youtube. bagi pemirsa yang ngiler uang pasti langaung percaya deh. lawong ditanyangan vidio seolah olah benar menggandakan uang lewat punggungnya.

akhirnya kanjeng dimas ditangkap oleh pihak berwenang dengan tuduhan pembunuhan dengan cara sadis 2 santrinya, lalu dikubur dengan kedalaman tidak lebih 1 meter. berangkat dari sini kasus berkembang hingga sampai penyitaan uang segudang.

kembali ke situasi ekonomi nasional, hari ini ada kabar gembirah. negara telah berhasil memburu uang pajak dari penduduknya melalui progam tax amnesti tembus hingga 2.500 tirlyun, nilai tukar rupiah menguat di 12000 per USD, turunya harga BBM, harga saham naik dan semoga harga komoditi lainya menjadi murah. situasi politik membaik.

dari semua fenomena yang ada, dapat dikaji  dengan memakai kerangka berfikir irasional, adanya dua fenomena kasus AA GATOT DAN KANJENG DIMAS bisa jadi, secara tidak langsung berperan menstabilkan situasi ekonomi global. AA gatot yang disita brangkas uang dan hasil ganddan uang dimas kanjeng tanpa seri telah mengalir ke khas negara.

ngopi dan diskusi bubar karena hujan.

08/09/2012

Petitioning Presiden Republik Indonesia

Petitioning Presiden Republik Indonesia

Oleh : Tubagus Airief Aditya

31 Juli lalu KPK menyita barang-barang bukti korupsi alat simulator di Korps Lalulintas Polri. Petugas polisi dan KPK bersitegang saat penyitaan. Petugas KPK terkunci, tak dibolehkan membawa barang bukti. Dari bukti itulah KPK menetapkan dua perwira berpangkat jenderal sebagai tersangka; Irjen Djoko Susilo, bekas Kakorlantas Polri dan Brigjen Didik Purnomo (Wakil Kakorlantas Polri).

Inilah yang membuat tokoh anti korupsi dan pegiat civil society memprakarsai sebuah petisi menuntut agar Polri menyerahkan kasus korupsi alat simulator ke KPK.

Mereka dimotori oleh Anita Wahid, (putri Gus Dur) dan Teten Masduki, serta Benny Susetyo (budayawan), dan didukung ahli hukum pidana terkemuka Yenti Garnasih (Universitas Trisakti), mantan Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh, penasehat Jaksa Agung Chairul Imam, ibu rumah tangga peduli anti korupsi Rebecca Gultom, Sri Palupi (ECOSOC), Bambang Widodo Umar (pengajar UI), Zumrotin K Susilo, Fadjroel Rachman, Todung Mulya Lubis, Asep Rahmat Fajar, pakar komunikasi politik Effendi Gazali (UI), Radar Panca Dahana (Budayawan), Taufik Basari, dan Donal Fariz (ICW).

Harapannya Polri menjadi terbuka tanpa ikut menangani korupsi simulator SIM yang ditangani KPK. Itu akan menjamin tak adanya peluang intervensi. Apalagi kasus ini sudah ditangani KPK. Jika dilanjutkan, kata mereka, Kepolisian jelas menabrak hukum.

Selain dua perwira polisi, tersangka lainnya; Budi Susanto (Dirut PT Citra Mandiri Metalindo Abadi) dan Sukotjo S Bambang (Dirut PT Inovasi Teknologi Indonesia). Di luar dugaan Bareskrim tetapkan 5 tersangka kasus yang sama; Brigjen Didik Purnomo, AKBP TR Teddy Rusmawan (Ketua Pengadaan), Sukotjo Bambang, Budi Susanto, serta Kompol L. Jika dicermati, 3 dari 5 tersangka baru itu sebelumnya telah ditetapkan KPK. Polri mengklaim sudah beritahu Kejaksaan Agung pada 1 Agustus, waktu yang berdekatan dengan kejadian penyitaan di atas.

Kita berharap Polri mau mengintrospeksi diri dengan menempatkan dirinya sama dan setara di hadapan hukum. Jika menghalangi, maka slogan antikorupsi Polri hanya jadi pepesan kosong. Bersama sejumlah kalangan yang peduli pemberantasan korupsi, para petisioner ini meminta Presiden mengintruksikan Kepala Kepolisian RI dan Jaksa Agung RI agar menyerahkan sekaligus mempercayakan penyidikan kasus ini kepada KPK. Pernyataan Jaksa Agung Basrief Arief yang menyatakan bahwa KPK berhak menyidik kasus ini sesuai UU sudah sangat tepat dan tinggal diwujudkan dalam tindakan nyata.

18/07/2012

Refleksi Demokrasi


REFLEKSI DEMOKRASI 
Oleh | Tubagus Arif Aditiya
Hampir 10 tahun semenjak reformasi dijadikan alternatif terakhir untuk menamatkan "birokrasi aristokrat" Orde Baru yang mengakar selama 32 tahun. Pada saat itu, ribuan masyarakat dari berbagai elemen bersatu membentuk barisan ideologis dengan satu tujuan : perubahan.

Waktu itu, tahun 1998, ibu saya pernah bilang bahwa mungkin pasca reformasi negara kita akan lebih menghargai demokrasi. saya baru duduk di kelas 3 SMP dan lebih tertarik untuk mengetahui pemenang Final piala dunia '98. Demokrasi bahkan terasa asing di telinga.

SMA, baru saya dikenalkan pada demokrasi, sebuah paham "tengah-tengah" antara Diktatorisme dan Liberalisme, paham yang menyatakan kekuasaan berada di tangan rakyat. dan Amerika sebagai negara yang memperkenalkannya. Namun memang tidak ada satu sumber pun-yang pernah saya baca- yang menggambarkan formula bernegara ala demokrasi yang standar. sehingga, mungkin, setiap negara berdemokrasi dengan interprestasi sendiri. 

Oke, reformasi telah melahirkan 4 Presiden (Habibie, Gus Dur, Megawati dan SBY) dalam jangka waktu 10 tahun. mungkin ini manifestasi demokrasi yang real,..no problems, masih bisa diterima, seperti layaknya klub sepakbola yang bisa gonta-ganti pelatih ketika tim nya tidak kunjung sukses. 
Pemilu diikuti oleh lebih dari 40 partai??
Oh ya, kita bukan ORBA kan? yang hanya mengenal 3 partai dan pemenangnya itu-itu juga...
sistem multipartai boleh lah sebagai manifestasi lain dari demokrasi..
Selain itu bergesernya kekuasaan eksekutif ke legislatif pun menunjukan ada di tangan siapa kekuasaan itu sebenarnya..

Tapi ada hal yang agak membuat saya mengerutkan kening...

Apakah demokrasi berarti melegalkan aksi anarkisme?

Semenjak tumbangnya rezim ORBA, para aktivis yang selama ini bungkam tiba-tiba mendapatkan angin untuk bersuara dan berekspresi, hal itu wajar adanya, karena itu merupakan cermin demokrasi berjalan.., tapi ada perbedaan bukan antara "kebebasan" dengan "kebablasan"

untuk mendukung pendapat saya, coba kita nyalakan tv dan lihat setiap harinya ada berapa Demo yang berakhir ricuh, tampaknya demo jika tidak ricuh maka bukan demo...
terutama mahasiswa, saya merindukan saat-saat mahasiswa berani berdialog dalam kerangka ilmiah dan bersuara dengan tujuan membangun, 
saya tak bisa membedakan antara preman dengan mahasiswa saat ini, demonstrasi yang diselingi kericuhan, perkelahian dan segala macam kekerasan kerap terjadi dan sayangnya dilakukan oleh barisan ber-almamater yang seharusnya menjadi role model bagi masyarakat, dan seringkali demonstrasi itu tidak didasari pengetahuan akan objek yang akan ditentang...

namun mungkin itulah demokrasi bagi mahasiswa, berani bersuara, tanpa fakta dan berakhir ricuh, lalu apa selanjutnya?
idealisme yang cerdas sudah menjadi barang langka...padahal banyak jalan menuju perubahan. toh buktinya aksi anarkisme itu tidak berdampak apapun, kecuali pandangan negatif dari masyarakat.

Ini merupakan pemahaman prematur yang akhirnya merekonstruksi keadaan sosial, tampaknya setiap hal bisa dijadikan bahan demonstrasi, bahkan hal-hal yang sesungguhnya tidak esensial.

Lucu jika melihat kondisi itu, tapi inilah potret demokrasi di Indonesia yang diterjemahkan secara mentah..

Dalam sebuah forum diskusi, saya pernah mengatakan bahwa reformasi merupakan sebuah rekaya sosial untuk mencapai status quo. Saya mencontohkan begini. "reformasi berarti demokrasi, demokrasi berarti demonstrasi, demonstrasi berakibat meningkatnya eskalasi politik dan berujung pada penerapan status darurat, militer mengambil alih dan kita kembali dipimpin rezim"

Setidaknya ada yang berubah biarpun destruktif..
Setuju???

Heart Note

HEART NOTE
Oleh | Tubagus Arif Aditiya

Bagaimana rasanya jika kita lebih sering kehilangan sesuatu daripada mendapatkan sesuatu? kadang keputusan seseorang mampu merubah hidup seseorang seumur hidupnya, namun ketika penyesalan itu hanya berbuah kesia-siaan maka yang terjadi justru adalah bentuk penerimaan yang dipaksakan terhadap realitas. ketika hidup harus terus tumbuh tanpa bimibingan, maka kita kehilangan Tuhan, namun bagaimana jika itulah realitas yang terjadi? 
I have no distance left to Run... 

Revolution

REVOLUTION
oleh | Tubagus Arif Aditya

Democracy was just the way to keep people in confusing situation and protect status Quo..
he have no option instead follow the rule of game which has been made by people who think they are the survivor..
------------ the rule to make us keep stupid and put bullet in our head---------------

27/01/2011

Bisikan Gila

Admin mengundang kamu untuk mengirimkan sebuah / 1. Opini, dengan tema yang meliputi (hukum, budaya, politik, sosial, edukasi, teknologi, dan hiburan) 2. sajak/puisi, yang meliputi (percintaan, sosial, kehidupan, dan religi). dan Setiap opini atau puisi/sajak akan di tampilkan sesuai dengan aslinya. Syarat dan ketentuan opni atau sajak/puisi (1) minimal 4 alinea/paragraf murni dari pemikiranmu, dan bukan copy paste. (2) mengirimkan photo serta nama jelas. untuk hasil akhir tidak ada hadiah, semua di kembalikan kepada pembaca itu sendiri, bila mana setiap opini atau sajak/puisi mempunyai banyak komentar dari pembaca lainya dan komentar adalah yang mempunyai id "link" blog/website dan bukan anonim, akan di jadikan tren topic di Webblog "www.bakiakbutut.co.cc." /. Opini, sajak/puisi dapat di kirimkan ke ( anun_kasep[at]yahoo[dot]co[dot]id ) sekian dan terima kasih.
BISIKAN GILA
Oleh | Tubagus Arief Aditya
Penyunting/Editor | anunkaseppasundan


Salam Sejahtera,
Beberapa hari ini, curahan hati Presiden kita, Pak SBY, telah menjadi Trending Topic (pinjam istilah twitter) hampir disemua lapisan masyarakat. Di berbagai media, dijadikan bahan diskusi, dan artikel mengenai masalah ini bisa di baca hampir setiap hari. Hal ini bertransformasi dari sebuah "curhat" menjadi "isu Nasional", yang menjadi bola panas bagi si empunya curhat itu sendiri, Pak SBY.

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang sensitif dan reaktif, dengan berbagai permasalahan sosial yang ada di masyarakat, ucapan atau komentar dari para pemimpin negeri ini menjadi alat kita untuk menepatkan mereka di posisi yang salah. Hal itu tidak salah, mengingat kondisi sosial-ekonomi masyarakat kita tidak kunjung membaik dalam kurun waktu pasca reformasi. Curhatan SBY ini, dianggap sebagai ungkapan yang egois dan dangkal. bagaimana tidak, ketika sebagian masyarakat indonesia terjebak dalam kolonialisme versi modern (baca:penjajahan ekonomi) dan bergelut dengan kemiskinan, Presiden kita yang gajinya, konon mencapai 68 Juta, masih mengeluh tentang 7 tahun tidak naik gaji. yap, itu blunder yang fatal bagi seorang negarawan sekelas Presiden. padahal, data KPK terakhir, kekayaan Jendral Bintang 4 TNI ini mencapai 3 Milyar lebih. 
Mungkin kurang lebih itu pemikiran kebanyakan orang....

Berbagai reaksi, yang kebanyakan penolakan, terjadi sebagai implikasi dari pernyataan tersebut. bahkan anggota DPR-RI berinisatif mengumpulkan koin untuk Presiden sebagai bentuk sindiran. Politisi sekelas Akbar Faisal (F-Hanura) atau Bambang Soesatyo (F-Golkar) tidak segan-segan menyebut Presiden tidak memperhatikan asas kepatutan sebagai seorang kepala negara. DPR-RI sepakat dengan rakyat, menganggap bahwa statement Presiden sebagai statement yang tidak tepat dan salah tempat. Dan itu menjadi tekanan politis, karena anggota DPR-RI pun menjadi barisan terdepan yang bersuara lantang menentang Curhatan Pak Beye. yah selama ini, berbagai kebijakan pun yang niatnya konstruktif dari Pemerintah, banyak ditentang oleh anggota dewan, apalagi jika sang pemimpin pemerintah dan pemimpin Partai pemenang Pemilu, salah bersuara, maka hal itu merupaka santapan empuk bagi mereka.

Dilain pihak, ada hal lain yang unik, ternyata tidak semua pihak menentang curhatan Pak Beye, Depkeu pimpinan Agus Martowardjojo misalnya, pasca curhatan pak Presiden, Depkeu langsung sibuk menggodok kebijakan kenaikan gaji para pejabat (dimana Presiden termasuk didalamnya). Depkeu menyatakan, bahwa rencana ini sudah di bahas 3 taun yang lalu ketika Depkeu masih dibawah pimpinan Ibu Sri Mulyani. namun, 3 taun atau baru kemarin, ide kenaikan gaji pejabat hanya beberapa hari setelah prseiden curhat, agaknya pantas dicurigai. entahlah, mungkin itu bentuk loyalitas yang terlalu loyal dari jajaran kementrian keuangan.

Namun, mari kita sedikit membuka pikiran akan hal ini. saya tidak membela siapapun dalam hal ini, hanya saja, saya sama sekali tidak menanggap curhatan SBY tentang gaji itu sebagai pernyatan politis atau pernyataan keberatan. namun, hal ini di politisasi oleh lawan politiknya, dan dijadikan moment mengambil hati oleh para pendukungnya. Bagaimana seandainya kita melihat dari perspektif bebas lainnya,  mungkin saja kondisinya pak Beye mengeluarkan statement 7 ta   tahun tidak naik gaji bukan karena dia ingin naik gaji, tapi mungkin statement ini bisa dibaca seperti ini "saya tujuh taun tidak naik gaji, tetapi saya tidak mengeluh". mungkin pak Beye ingin menunjukan semangat keikhlasan dalam bekerja, bukan ingin menyatakan bahwa gajinya kurang. setau saya, SBY adalah presiden yang amat sangat menjaga citra, baik itu dari tingkah laku maupun ucapan. politik pencitraan yang dijalankan SBY selama ini terbukti berhasil membawa SBY duduk sebagai Presiden RI selama 2 periode. Jika pencitraan itu masih merupakan bagian dari strategi politik SBY, buat saya aneh jika SBY curhat ingin naik gaji pada sebuah Pidato yang mengundang banyak media dan didepan banyak orang. mungkinkah SBY sudah tidak peduli dengan citra dirinya? saya pikir tidak, politik pencitraan SBY selama 7 taun memimpin nyaris tidak berubah. SBY adalah tipikal pemimpin yang sangat peduli terhadap self-image dalam kapasitasnya sebagai presiden. Lalu SBY curhat ingin naik gaji didepan media? hmm..no chance. 

Sekali lagi saya tidak membela siapapun, namun hal ini mengindikasikan 5 hal. 
Pertama, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang reaktif dan sensitif, apalagi terhadap masalah uang. Dengan kondisi sosial-ekonomi yang terjadi di Indonesia, bagi rakyat, agaknya kurang pantas jika pejabat pemerintah ingin naik gaji. 
Kedua, manuver lawan politik SBY dan Partai Demokrat benar-benar mencari celah untuk meruntuhkan dominasi politik pencitraan SBY maupun partainya. saya pikir, mereka langsung menyimpulkan statement SBY sebagai bentuk pengkhianatan terhadap asas keadilan masyarakat. pengumpulan koin untuk SBY, merupakan contoh serangan politis konkrit lawan-lawan SBY terhadap figur SBY. ini pun menunjukan bahwa koalisi ditubuh pemerintah tidak berjalan baik, melihat banyaknya politisi dari partai koalisi yang berani menyerang SBY secara verbal.
Ketiga, Hal inipun menunjukan respon orang-orang dekat SBY yang begitu bersemangatnya cari muka. padahal periode ini Kabinet SBY akan berakhir, dan mungkin akan terjadi pergantian dijajaran kementrian. 
Keempat, entah apakah SBY sudah tidak peduli terhadap citra atau SBY sudah capek terkungkung dalam politik pencitraan yang begitu membarikade SBY dalam bertindak, sehingga pak beye mulai tidak mempertimbangkan implikasi ucapannya di depan umum, meskipun mungkin niatnya tidak demikian.
Kelima, ini merupakan santapan Media yang begitu berapi-api menghadirkan diskusi, berbagai narasumber, yang berpotensi menghadirkan perdebatan agar rating acaranya naik. biarpun beritanya kadang tidak berimbang dalam menggiring opini publik

Indonesia merupakan negara yang bisa diibaratkan rumput kering, ketika ada sedikit api, maka akan mudah terbakar..kita tidak perlu melihat prilaku reaktif masyarakat lewat tawuran pelajar misalnya, namun panggung politik indonesia, yang isinya manusia-manusia cerdas,  menunjukan sesuatu yang sebenarnya lebih menarik dan fatal akibatnya ketimbang tawuran pelajar.