Showing posts with label Opiniku. Show all posts
Showing posts with label Opiniku. Show all posts

07/08/2012

Simiskin Didadu

Badan Pusat Statistik menjadi corong klaim tentang berkurangnya jumlah total kemiskinan, opini ini tidak akan serta merta menjelaskan soal deretan angka jumlah masyarakat antara yang miskin dan sejahtera, karena jelas sudah diberita tergambar berapa jumlah angka kemiskinan yang terus berkurang walupun fakta di lapangan bahwa sesungguhnya kemiskinan semakin merajalela, BPS hanyalah lembaga di bawah kendali presiden, yang mana seluruhnya pengangkatan seorang pemimpin di pilih dan di angkat oleh presiden melalui mekanisme persetujuan DPR, ada kencederungan setiap tahun dan setiap berganti presiden angka-angka tentang simiskin terus berkurang, setiap itu juga angka kemiskinan tidak serta memperlihatkan dengan tegas dan jelas dalam laporannya kepada presiden dan DPR bahwa angka kemiskinan bertambah atau tetap stabil, nyata-nyata fakta yang terjadi adalah berlawanan dengan keadaan sesungguhnya, kalau di runut-runut jika memang kemiskinan selalu berkurang di setiap pergantian tahun atau presiden tentulah kita tidak akan melihat atau jarang melihat seorang pengemis mengais rejeki dengan menyanyikan lagu sumbangnya atau mengharap belas kasihan di jalur-jalur vital seperti lampu merah, dan menengadahkan wajah memelas di trotoar-trotoar jalan, namun kita harus mengakui bahwa kenyataan yang terjadi justru semakin bertambah kian harinya, apakah ini sesungguhnya, apakah data jumlah kemiskinan yang di buat adalah untuk memenuhi dan memuaskan hasrat sang pemimpin eksekutif dalam hal ini presiden, entalah namun kita tahu setiap data yang tergambar jelas membuat kita mengerutkan dahi, dan membuat hati kita bekata “benarkan kemiskinan berkurang seperti apa yang mereka katakan ??? ”

Lebih dari beberapa tahun ini kita memperhatikan angka-angka tentang kemiskinan terus berkurang namun seolah jauh dari persoalan angka dan deretan yang terpampang jelas di beberapa media lokal dan nasional, angka tersebut menyuguhkan sebuah pertanyaan besar yang harus di jawab oleh pihak yang mengklaim bahwa angka tersebut adalah valid dan dapat di pertanggung jawabkan, sekali lagi opini ini tidak akan menyebutkan berapa nilai persentase angka kemiskinan antara berkurang dan penetapan angka-angka dari tahuh ke tahun, opini lebih bersandar pada oponi pribadi sebagai masyarakat awam yang mengambil persepsi sesuai dengan pemahaman penulis, sekian angka dan jumlah yang semakin kecil tentang data kemiskinan tetap pada dasarnya tidak akan membuat masyarakat atau kita tersenyum lebar, karena pada intinya masyarakat cerdas tahu tentang kenyataan yang sebenarnya terjadi bukan karena pengaruh media dan terpengaruh informasi lainnya namun lebih kepada merasakan, melihat serta mendengar tentang keadaan rasionl di sekitarnya, bahwa kemiskinan adalah sesuatu yang sensitive dimana antar kebenaran dan kepalsuan bisa di lihat oleh kita sebagai masyarakt Indonesia.

KEMISKINAN DAN SIMISKIN
Membandingkan dari tahun ketahun yang memperlihatkan secara detail tentang laporan-laporan pengurangan jumlah kemiskinan berkurang namun berbau politis tentulah kebenaran dan kepercayaan yang berkembang akan lemah, cobalah tengok survei-survei yang menyajikan kepuasan masyarakat tentang kinerja pemerintah dari tahun ketahun tentang “kepuasan’ maka nilainya adalah normatif atau biasa saja bahkan sesekali kita lihat dari survei yang di beritakan tingkat kepuasan tersebut begitu rendah atau katakanlah nilai persentasi-nya jauh lebih besar tentang ketidak puasannya, hal ini tentu ada konektivitas antar kepuasan dan keadaan sosial yang terjadi di mayasarakat bahwa pada dasarnya antara judul pengurangan kemiskinan yang di rilis Badan pusat statistik dan survei kepuasan masyarat oleh lembaga-lebaga survei independent sangat berlawanan, dan jika memang ada angka kemiskinan berkurang tentulah survei yang menyajikan persentase tentang “apakah masyarakat puas dengan kinerja pemerintah” maka nilai persentasenya harus lebih tinggi dan jauh melebihi nilai persentase tentang pengurangan kemiskinan.

Sebenarnya apakah memang data yang valid ataukah  mereka yang miskin hati nuraninya sehingga tidak berani melaporkan dan memberitakan atau sekedar merilis ke media, bahwa kemiskinan di Indonesia begitu besar jumlahnya, ataukah mereka takut atau merasa ingin berbalas budi karena sudah mengangkat mereka sebagai pemimpin dari badan tersebut dan hendak menggembirakan sang presiden dengan jumlah-jumlah palsu tentang bertambah dan meningkatnya masyarakt sejahtera.

Apalah artinya jika deretan angka yang menjadi ciri khas dari lembaga yang merilis tentang pengurangan kemiskinan hanya berpijak pada orientasi untuk kepuasan pemimpinya demi alasan kelise menyenangkan hati sang presiden dan berbau carmu (carimuka), tentulah integritas lembaga tersebut mejadi pertaruhan besar, dan berakibat karma, siapapun kelak dan oleh siapapun lembaga tersebut di pimpin bahkan oleh seorang yang benar-benar professional dan mampu di percaya oleh masyarakt, jika sistem yang tercipta dari tahun ke tahun hanya untuk memenuhi dan menutupi kekurangan lembaga dan bhkan presiden dalam hal ini kepala pemerintah tidak akan mampu merubah persepsi publik bahwa setiap angka pengurangan kemiskinan yang dirilis selalu akan menimbulkan kecurigaan, apakah benar, bohong, atau fiktif laporan-laporan tersebut bisa di percaya. Ataukah benar bahwa laporan tersebut untuk menutupi kegagalan dalam menjalankan roda pemerintahan karena pada dasarnya kegagalan bawahan (kementerian/Lembaga) adalah kegagalan seorang presiden juga.

Jika sudah seperti itu maka selayaknya nama Badan Pusat Statistik akan berganti julukan menjadi Badan Pusat Simiskin dengan sendirinya, dan seseorang pimpinan baik itu kepala badan pusat simiskin dan presiden yang menjadi tempat pertanggung jawaban tidak akan mampu merubah image dan citra buruk lembaga tersebut di kemudian harinya, jika sudah seperti ini siapakah yang patut di persalahkan, presiden, kepala badan pusat simiskin atau kita sebagai rakyat yang mengamati tentang angka-angka kemiskinan yang selalu berlawanan arah dengan kenyataan. 

02/03/2012

Antara Dilema dan Hujatan

Ketika sebagian orang berkoar tentang HAM dan eksploitasi anak, mari sejenak kita merenungi bahwa tidak semua orang hidup di atas kemurahan rejeki dari Tuhan dan tidak semua orang hidup dalam bergelimpangan harta atau paling tidak hidup dengan sebuah keadaan yang cukup berada, hari ini aku melihat sebuah cerita yang tayang ditelevisi swasta, aku inisialkan TV tersebut adalah “TT”, pada tayangan yang tayang hari Senin tanggal 27 Februari 2012 jam 17:30, dan dalam tayangan yang berlokasi di Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat, seorang anak bernama “Andri yang harus bergelut dengan dunia yang tak sepantasnya bagi seorang anak di bawah usia 20 tahun, katakanlah usia anak itu masih 10 tahun, bagaimana dia haru bekerja menghidupi seorang ibu dan adiknya, dengan bekerja sebagai tukang memasak dan sekaligus sebagai pembantu kepada seorang juragan ikan, seorang anak yang memang sangat jarang bagi seusianya untuk bekerja, memang masih banyak andri-andri yang lain yang bahkan usia nya lebih muda, bahkan pada sebuah acara berita di statisun tv swasta lainya yang aku lihat, di sulawesi seorang anak perempuan yang usianya di bawah 10 tahun harus hidup berdua dengan ibunya yang sakit-sakitan, miris dan terharu rasanya seorang anak perempuan harus hidup dalam kepayahan dimana sang ibu sakit dan dia tanpa henti melayani ibunya yang kesakitan, sang anak perempuan itu memasakan dan memandikan bahkan menyuapi lebih dari itu dia mencari uang untuk biaya hidup sehari-hari, bahkan terkadang berharap belas kasian dari para tetangganya, untunglah jiwa sosial dari sebagian masyarakat yang berada persis dekat rumah seorang gadis kecil tersebut masih terpelihara, sungguh ironi rasanya di tengah ramainya perbincangan nasional dan internasional tentang pelarangan pekerja anak dan ekspolitasi anak.

Kembali ke bahasan seorang anak, seorang anak prempuan dari sulawesi ini tidak tahu bahwa usianya adalah usia bermain dan belajar, yang dia tahu adalah bagaimana sang ibu tersayang bisa tetap hidup dan berharap adannya kesembuhan walau pada kenyataanya untuk membawa ibunya kerumah sakitpun tidak ada karena bagi seorang anak kecil perempuan dari sulawesi itu dengan polosnya berfikir adalah yang terpenting bagaimana hari ini ibunya bisa makan dan bisa tidur nyenyak dan tetap tersenyum padanya.

Namun hari ini penulis  ingin menggambarkan kembali bagaimana seorang anak yang mungkin ada di antara kita harus berkerja demi menghidupi atau bahkan demi membantu orang tuanya, bahkan dengan kerelaan hati tanpa permintaan dari orang tua, seorang anak yang lahir dari keluarga yang serba kekurangan harus bergelut dengan dunia yang cukup ekstrim bagiku, dimana usia yang seharusnya dinikmati dengan masa sebagai anak-anak harus terlwati dengan hiruk pikuknya kesibukan berkerja dengan orang-orang dewasa. Hal ini jelas sangat bertentangan sekali dengan pemaHAMan sebagain orang, yang mengkapnyekan stop eksploitasi anak dan stop pekerja anak, bahkan di belahan dunia manapun dan di kota manapun yang menghendaki dan bahkan melarang adanya pekerja anak di bawah usia yang semestinya,

Iya memang benar, bahwa seorang anak di bawah usia pekerja sangatlah bertentangan dengan nilai HAM dan kebebasan seorang anak itu sendiri, dimana seorang anak juga punya hak untuk bisa merasakan kebebasannya sebagai anak dan menghabiskan waktu untuk bermain dan belajar serta merasakan bangku sekola layaknya anak-anak yang lain, stop pekerja anak dan stop ekspoitasi anak yang sedang di germborkan dan menjadi jargon dalam beberapa media kampanye dengan tema tindak kekersan anak, tentu hal-hal tersbut sebagai penulis sebenarnya sangat setuju sekali bahwa dimanapun dan darimanapun seorang anak, bagi penulis adalah masa indah yang tentu bukan suatu keharusan namun memang sudah menjadi sebuah kewajaran bahwa seorang anak punya hak untuk mersakan dan menikmati masa indahnya, namun kembali lagi bahwa tidak semua manusia di dunia ini seberuntung dan sebahagia bagi orang yang tidak pernah mersakan hidup dalam kesulitan tentu hal di atas dimana cerita anak harus bekrja tanpa di minta atau bahkan orang tua melarang anak bekreja namun sang anak bergeming untuk tetap bekerja demi keluarganya, tidak bisa di terima dan tidak masuk akal, pertanyaanya apakah jika sebuah kelaurga kecil ada di tengah-tengah kita umpama ada seorang sebuah keluarga dimna hanya ada seorang anak dan seornag ibu yang sakit, apakah setiap waktu kepeduliaan dari kita-kita akan ada, kalaupun ada tentu hal ini tidak sambung-menyambung karena jiwa sosial dalam masyarakat sudah mulai rapuh.

Dan adanya cerita kepedulian sesorang pada keadaan tertentu, tidak bisa di ukur apalagi keadaan tersebut berada dalam kultur sosial masyarakat yang cenderung hidup dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat acuh dan saling sibuk dengan urusaan masing, alasan lainya adalah jikalaupun ada kepeduliaan di tengah-tengah masyarakat tentu keadaan sebuah keluarga kecil dan cerita anak menghidupi orang tuanya sangat jarang tersiar dan terkadang jarak antar kehidup masyarakat yang berjauhan satu dengan yang lainnya, serta cara bersosialisasi minim antar masyarakat, sesuatu yang sulit untuk bisa di gambarkan sepenuhnya dan selengkapnya dalam tulisan ini karena kenyatanya sering di antara kita melihat berita dan cerita seorang anak hidup dalam keadaan dilema dan hidup dalam dunia kelam dimana ia harus berjuang di usia yang tidak semestinya dan berjuang demi sebuah kehidupan sambung menyambung untuk tetap hidup dan bertahan hidup di tengah-tengah ketidak pastian.

Dilema ini seperti sebuah cerita yang terkadang bagi sebagian orang sulit untuk diterima, karena pada kenyataanya yang mereka tahu (bagi orang-orang yang tak pernah merasakan hidup dalam kekurangan) sulit untuk di terima dan hal tersebut terkesan ironi, disisi lain ada seorang anak yang bekerja demi membantu orang tua karena alasan ekonomi dan sisi lain  adapula di sebagian masyarakat, bahwa seorang anak bekerja atas dasar eksploitasi demi keuntungan terntentu, kedua-duanya memang sungguh tidak bisa di terima, namun kita cukup sulit untuk mengatakan adanya ekploitasi bagi seorang anak yang berkerja dengan kerelaan hati dengan niat ingin membantu, namun cukup mudah dan jelas untuk mengatakan salah besar untuk alasan kedua dimana anak di ekploitasi demi keuntungan tertentu, walau pada dasarya kedua-duanya tetaplah pada porsi yang memang benar-benar tidak di benarkan, namun begitulah kenyataanya dimana semua itu bersumber yang tak jauh dari alasan ekonomi, sesuatu yang sulit untuk menghindari hal seperti itu jika kita mampu mengatakan untuk hal sederhana ini, maka jawaban dari segalanya adalah perlu adanya kesejahteraan kepada masyarakat harus di tingkatkan dan pemerataan ekonomi terhadap rakyat kecil harus benar-benar di bangun, baik secara makro/mikro, selaian itu jiwa sosialisme pada masyarakat juga harus di galakan agar rasa kepeduliaan itu tetap ada dan berkembang, dilema di atas hujatan yang memang tak jauh dari alasan ekonomi, maka beruntunglah bagi mereka yang tak pernah merasakan hidup seperti andri-andri lainya dan gadis kecil dari sulawesi, satu hal tentunya janganlah terlalu mendiskreditkan sebuah keluarga yang dimna kekurangan dalam ekonomi sebagai alasan menjadi penyebabnya, walaupun semua itu di atas ketidak benaran karena pengabaian akan hak seorang anak, semua perlu solusi yang baik dan tidak saling menyalahkan atau menyudutkan, solusi yang tepat dan cepat dari pemerintah sebagai pengayom dan pelayan masyarkat adalah yang di harapkan selain itu toleransi sikap peduli sesama antar masyarakat mutlak di perlukan, harapan lainnya pemerintah lebih peduli akan hal kecil seperti ini agar tidak terkesan menjadi sebuah isu yang besar ketika media ramai-ramai menggunjingkan tindak kekerasan terhadap anak-anak. Semoga!! 

01/04/2011

Taman Hijau


02/02/2011

Westernisasi Lebay

WESTERNISASI VERSUS EASTERNISASI
Oleh : anunkaseppasundan
Perkembangan informasi yang  cepat bahkan terkadang lepas dari kontrol baik oleh negara maupun oleh individu tertentu serta rendahnya pemahaman menjadi awal di mana gaya dan passion style maupun pola pikir masyarakat berubah. Isu Globallisme, Liberallisme, Kapitalisme atau bahkan Sekulerisme, selalu menyatu dalam bingkai Westernisasi di abad modern ini. Penguasaan informasi dan media oleh bangsa barat bukan tidak mungkin membawa pengaruh dari hal yang kecil sampai sekala yang besar. Peradaban yang lemah akan terhapus oleh peradaban yang kuat yang lebih dominan menguasai media. Seperti bangsa atau Negara Amerika dan Negara Eropa lainya yang menguasai hampir 65% media di dunia ini, mereka mampu menciptakan opini hanya dengan 1 hari atau bahkan beberapa jam dengan sebuah media televisi, internet atau bahkan media lainya. Isu Westernisasi terkesan seperti senjata untuk merubah dan menyatukan beberapa budaya atau pandangan menjadi satu kesatuan yang hegemonic untuk menjadi sama, baik dari aspek budaya, politik, hukum, teknologi. Pendidikan bahkan agama.

Apa Itu Westernisasi
Bukan tidak mungkin aku dan sebagian masyarakat lainya : berpendapat sama seperti dalam tulisan ini bahwa Westernisasi adalah pengaruh atau paham yang hendak menjadi budaya baru yang tercipta karena arus informasi atau bahkan tercipta karena sebaran atau tersebar baik itu oleh media elektronik maupun cetak yang datangnya dari bangsa barat, baik secara langsung atau bahkan tersamar. Dan westernisasi mempunyai pengaruh luas  dalam hal apapun, seperti yang tercamtum di atas yaitu :

Budaya, Politik, Hukum, Teknologi. Pendidikan bahkan Bahasa dan Agama

Kepercayaan diri yang rendah dalam suatu bangsa atau Negara, adalah target dimana westernisasi menjadi senjata untuk menyerang setiap kelemahan yang ada. Westernisasi mampu merubah sesuatu yang tabu atau bahkan “masih canggung untuk di ungkap” menjadi sesuatu hal yang biasa, pola pikir setiap individu mampu di rubah hanya dengan berbekal sebuah perangkat media informasi. Di tengah bangsa yang manjemuk westernisasi mampu beradaptasi dan menjelma menciptakan sesuatu seperti budaya yang baru dan kultur baru dalam masyarakat yang terseok dan kalah saing dalam bidang penguasaan media. 

Westerniasi Indonesia
Indonesia adalah Negara terhebat menuruku :  dimana ada berjuta suku dan karakteristik yang berbeda pula di setiap pendudukanya, dan Indonesia adalah negara dengan perkembangan perangkat media tercepat  di antara negara di kawasan Asean lainya. Seperti Jepang yang menerima budaya westernisasi namun tetap mepertahankan nilai2 luhur, karakterisktik dan norma serta berpegang teguh akan warisan budayannya. Sehingga adanya isu westernisasi di jadikan sebagai proteksi dimana negara mau tidak mau harus aktif untuk memberi kesempatan dan membantu sekuat mungkin budaya lokal atau kekuatan asli untuk tetap membumi.

Salah Kaprahnya Westernisasi
Sesuatu yang menyakut tentang kemajuan sering di artikan pula sebagai bagian dari akibat westernisasi, padahal sesungguhnya tidak.!!
Kemajuan tenknologi sering pula di artikan sebagai bagian dari westernisasi padahal sesunggulnya tidak!!!
Menurutku secara “pribadi :
Pada dasarnya kemajuan teknologi adalah tergantung dari kemampuan masing2 setiap bangsa atau negara akan SDM di masyrakatnya. Pengertian yang salah akan westernisasi yang selalu berhubungan dengan kemajuan adalah sesunggunya bohong besar. Karena sesungguhnya suatu negara atau bahkan bangsa lainya bisa menciptakan sesuatu yang lebih baik dan lebih maju dari bangsa barat tanpa harus meniru, dan bahkan berhak akan pengakuan dan legitimasi suatu tentang istilah “kemajuannya” baik dari segi teknologi budaya dan sesuatu yang mencakup gaya hidup. Bahkan sebaliknya jika mampu menguasai peradaban dan menguasai informasi di dunia kita bisa menggerakan paham Easteniasi terhadap budaya barat namun semua itu tergantung dari konsistensi kita dimana kita mau bersama2 bergandengan menguasai teknologi informasi dan sejenisnya. Tidak dapat di pungkiri karena faktor sesungguhnya, adanya penyebaran isu westernisasi adalah media informasi.
Diantara Westernisasi Ada Easternisasi
Masyarakat yang mengaku dirinya berbudaya timur sejatinya harus mampu menjadi masyrakat yang mampu memimpin dan membenamkan dirinya dalam segala aspek kekuatan dan kemajuan dan menjadikan budaya yang ada dan yang telah di pegang teguh untuk tetap mempertahankan ke aslianya dan menjalankan budaya aslinya dalam keseharian serta menjadikan pula budaya atau pengaruh barat sebagai budaya kritis dan penyeimbang bahkan pendorong dan motivasi untuk sebuah keselarasan dan memahami bahwa di samping kita ada budaya yang berbeda tanpa semuanya harus kita ikuti. Bukan dengan mencela dan menghujat dengan pikiran sempit. Apalagi harus dengan isolasi dari kepungan budaya barat.

Westernisasi, sesungguhnya bukanlah budaya “ia” (westernisasi) adalah seperti paham atau pengaruh atau cara keinginan untuk meniru budaya tertentu yang datangnya dari barat dan menjadikannya sebagai penguat ego di tengah perkembangan zaman akan peradaban baru dan menjadikanya “ia” sebagai gaya atau passion baru dalam berkehidupan dan bermasyrakat.

Kita bisa melawan westerniasi dengan Easternisasi yaitu memulai dengan suatu gerakan dimana gerakan tersebut adalah adanya penayadaran akan kesederhanaan hidup namun tetap dengan cara berpandangan maju. Tanpa harus meninggalkan budaya asli kita dan darimana kita berasal. Tidak sepenuhnya westernisasi mengandung unsur kehebatan di balik itu semua ada tempat dan ciri cara pandang yang berbeda karena pengaruh lingkungan dan adata istiadat. Sementara cara mereka yang kita ikuti terkadang tidak sesuai dengan suatu keadaan dan lingkungan di sekitar kita.

Opini pribadi ini tidak bermaksud bahwa penulis berhaluan atau bahkan tunduk terhadap sesuatu yang berhubungan dengan bangsa barat tetapi lebih kepada apa yang ingin di sampaikan bahwa kita  yang merasa berbudaya timur harus bisa menerimanya karena seiring perkembangan dunia, kadang kala budaya memerlukan suatu akulturasi atau percampuran sebagai rasa saling menghargai dan menyeimbangkan yang ada, begitupun yang terjadi di belahan negara barat lainya mereka berlomba melawan budaya timur yang dengan istilah dan santer saat ini di Eropa dan Amerika lainya tentang maraknya arus imigran dan isu islamisasinya serta terkenal pula dengan merebaknya isu Easternisasi yang di bawa oleh orang2 Asia pada umunya yang singgah dan bermukin disana. Mereka (Bangsa barat dan Amerika) melawan dengan Intelktualitas dan tetap dengan toleransi tinggi bukan dengan pandangan sepit atau picik bukan dengan lebaya atau berebihan.

Satu point dimana Westernisasi akan tercipta  bila suatu pemimpin atau bahkan individu masyarakatnya lengah dan tak mampu memfilter budaya barat untuk di ambil mana bagian dari yang positif dan mana dari bagian yang negative. Dan kuatnya penguasaan media oleh bangsa2 barat tanpa kontrol atau bahkan kesadaran dari masyrakatnya kadang begitu kuat pengaruhnya. Bahasa, gaya berpakaian dan cara berfikir dan pandangsn nyeleneh bahkan memutarbalikan fakta serta menjadikan sesuatu yang sebenarnya “benar” menjadi sesuatu yang di anggap “salah” dan sesuatu yang sebebarnya “salah” menjadi sesuatu yang di anggap “benar”. Itulah pembiasan salah dan pemahaman yang salah kaprah  dimana sebagian dari kita tidak memahami subtansi arti pengaruh dan pesan yang ingin di sampaikan oleh bangsa barat.

Bangsa yang unggul dan percaya akan kemampuan masyarakatnya mampu membedakan mana bagian dari westernisasi dan mana dari akulturasi.

By : daripenulisuntukberbagi

31/12/2010

Patriotisme Garudaku

LOYALITAS VERSUS PATRIOTISME
Oleh : anunkaseppasundan
Lihatlah bagaimana ketika lautan manusia berpadu menjadi satu menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, semua pandangan mata dan pikiran tertuju pada satu kekuatan manusia yang berjumlah 11 orang, seolah-olah mereka adalah para pemimpin yang di agungkan dan di puja, kekuatan yang ada pada mereka mampu menyatukan semua pola pikir manusia Indonesia untuk bersatu melupakan sejenak permasalahan yang terus menerus menjadi menu keseharian.

Kekuatan, Keyakinan, dan Kemampuan, mereka curahkan untuk sebuah persembahan yang terbaik bagi rakyat Indonesia, bak gayung bersambut, apa yang mereka perjuangkan mendapat aplus dari seluruh rakyat Indonesia, dari sabang sampai Merauke, dari Sambas sampai pulau Rote semua rakyat Indonesia yang di Timur dan di Barat, di Selatan dan di Utara bersorak sorai mendoakan dan berharap bahwa di pundak para pejuang pasukan garuda yang sedang berjuang di Final Piala AFF dapat mewujudkan impian rakyat, yaitu Indonesia bisa menjuarai Piala AFF 2010 yang di adakan 2 tahun sekali ini.

AFF atau Assean Federation Football adalah laga pertandingan sepak bola antara di kawasan Asia Tenggara, dan Indonesia adalah Negara dengan jumlah Pulau, Rakyat maupun Klub sepakbolanya adalah yang terbesar di antara Negara-negara ASEAN lainya, hal ini tentunya akan menambah kebanggan tersendiri jika Indonesia mampu menjadi juara di pentas piala AFF 2010 sekaligus yang pertama dalam sejarahnya.

Namun apa yang terjadi ketika waktu yang di impikan tersebut jauh dari yang di harapkan ternyata di luar dugaan, Indonesia di kalahkan dalam laga kandang Malyngsia dengan skor mutlak 3 - 0 untuk Indonesia, tentunya hal ini membawa pengaruh besar betapa rakyat seolah di buat bimbang apakah Indonesia mampu menjadi apa yang rakyat Indonesia impikan. Namun sebagian melihat dari kacamata jernih bahwa apa yang di perbuat para pejuang pasukan garuda sudah tentu jauh lebih bagus karena perjuangan pasukan garuda adalah perjuangan sejati dengan suatu perjuangan alami tanpa kecurangan, rakyat Indonesia memaklumi bahwa kekalahan di laga kandang Malyngsia di karenakan faktor utama adalah mental para pejuang garuda yang lemah dan konsentrasi yang membuyar, hal ini di akibatkan sinar laser oleh para suporter anjing-anjing Malyngsia.


Rakyat Indonesia tetap bangga kepada mereka (pasukan garuda), karena sportivitas dan penghormatan mereka akan tuan rumah Malyngsia sebagai penyelenggara pertama di final piala AFF ini. Kalaulah saja jiwa patriotisme para pejuang garuda benar2 berkorbar tentu mereka akan dengan hati menghentikan dan walk out dari lapang hijau tersebut. Tetapi sungguh bijaksana?? apa yang terjadi mereka memupuk dan menyimbapan jiwa patriotisme mereka untuk di kumpulkan dan balik menyerang Malyngsia di kandang Indonesia. Sungguh ini perjuangan mulia betapa pemikiran moderat ada pada para pejuang pasukan garuda. Dan pemikiran konsrvativ ada para pejuang Malyngsia yang dengan piciknya mereka bak anak kampungan menggunakan segala cara untuk memenangkan pertandingan tersebut walau harus dengan sebuah tanda “kecurangan” dan pengkhiantan terhadap ikrar piala AFF. Padahal menurutu anak kampungan saja tidaklah seperti itu, lalu darimanakah para pejuang malyngsia dan anjing2 supporternnya tersebut ?? jawabanya kalau bukan dari kampung mereka berasal dari hutan yang dengan primitifnya baru mengenal “laser” lalu dengan se enaknya menggunakan cara2 kotor di bawa kemedan arena semegah dan sehabat pertandingan pinal AFF untuk di pertontonkan bahwa dan seolah ingin mengatakan “ini lho kami punya laser, lihat jangkauanya jauh sekali sampe jauh mengenai pemain Indonsia” tapi mereka menyadari bahwa apa yang mereka perbuat membawa kerugian bagi mereka, yaitu di adanya sangsi dari presiden AFF bahwa Malyngsia tidak dapat menyelenggarakan pertandingan sepak bola selama kurun waktu 4 th. Hahahahahahaha..

Di laga kedua pertandingan di awali dengan sebuah nyanyian kedua Negara, di menit pertama Lagu kebangsaan Malyngsia di nyanyikan, namun apa yang terjadi?? Suaranya kecil bahkan nyaris tak terdengar sama sekali betapa kecil jiwa patriotisme supporter Malyngsia mereka tidak mampu menyanyikan lagu tersebut karena lemahnya dan takutnya mereka terhadap rakyat Indonesia,  tapi bayangkan ketika laga pertama di Malyngsia suporten Indonesia masih berani memukau tuan rumah Malyngsia dengan menggemanya nyanyia tersebut, dan lebih menggema lagi ketika nyanyian tersebut ada di Gelora Bung Karno tepatnya laga ke dua di finall AFF tgl 29 Desember 2010. betapa menggegarnya suara nyanyian Indonesia Raya yang di lantunkan supporter Indonesia yang hadir. Hal ini membuat haru sekaligus bangga bagi para pejuang garuda. Dan suporter Indonesia tentunya.

Walau kalah aggregat 2 - 4 tetapi di laga kandang kedua ini di Indonesia, Indonsia tetap manang hanya saja kalah tertinggal di laga pertama. Tak ada kecewa tak ada ragu bagi rakyat Indonesia untuk tetap mendukung pasukan garuda karena kemenangan sesungguhnya ada pada kita pasukan garuda dan supoter Indoanesia karena kita bermain dan menyaksikan dengan soprtivitas tinggi dan menjujung nilai2 yang di bawa AFF dalam laga pertandingan ini.

Tetap semangat pasukan garudaku esok masih ada hari untukmu berjuang.

"Kalah terhormat lebih baik dari pada menang dengan pengkhianatan”
Wahai garudaku tetap semangat dan yakinkan dirimu bahwa esok engkau akan menjadi juara, juara yang lebih dari juara.
Wahai garudaku dan para suporter, ingatlah bahwa kita lebih terhormat dari pada anjing2 Malyngsia yang berkhianat

# Bravo Indonesia aku tetap bangga padamu # 

15/10/2010

Bangsat Demokrasi


BANGSAT DEMOKRASI
Oleh : anunkaseppasundan
Aku berdiri menyaksikan wajah-wajah garang menghiasi kursi-kursi dewan atau kekuasanan lainya, garang bukan dalam arti sesungguhnya, garang disini lebih bersifat wajah garang yang dalam artian bahwa mereka sangat berambisi dan haus untuk selalu duduk di atas kursi empuk, memang siapapun yang sudah terlena akan nikmatnya menjadi seorang penguasa paling tidak ke alfaan itu ada, apalagi jika yang terpilih adalah orang-orang pintar dalam hal tender proyek bukan sesuatu yang mustahil jika tanda tangan untuk sebuah bukti pun tak masalah yang penting amplop sudah di tangan.

Ketika satu masa kekuasaan jatuh pada satu manusia yang lebih mementingkan selembar amplop ketimbang sebuah amanah di ujung jari, maka yang terjadi adalah perampokan akan kepercayaan dan maling-maling demokrasi siap berkhianat terhadap konstitusi yang sudah menjadi tempat berteduh bagi rakyat, demokrasi memang mempersilahkan siapapun untuk bisa duduk di atas kekuasaan,  tetapi ketika demokrasi itu salah memilih penguasa maka yang terjadi adalah hilangnya kepercayaan yang di awali dengan sebuah peraturan yang memetingkan pribadi ketimbang kepentingan hajat hidup orang banyak.


Kekuasaan yang di salah gunakan lambat laun akan membunuh kewajaran, peraturan-peraturan akan di buat sedemikian rupa demi sebuah kalimat tentang “kelanggeungan” dan hajat hidup orang banyak bukan lagi sebuah prioritas untuk di nomor satukan tetapi yang terjadi adalah bahwa kepentingan pribadi adalah dewa terhebat yang membahagiakan diri sendiri dan golongannya. Banyak sudah sejarah kelam dalam republik ini ketika satu pemimpin menjadi seorang diktator maka kepentingan pribadi menjadi sebuah primadona yang tak boleh di lewatkan, dan dalam kasus seperrti ini Negara seolah memelihara bangsat demokrasi atas nama kepemimpinan walaupun yang sedang memimpin adalah tikus tengik yang menggerogoti kepercayaan rakyat, memang demokrasi adalah pilihan terbaik ketimbang sebuah monarki, tetapi ketika rakyat tidak jeli memilih seorang calon pemimpin darimana  dan bagaimana waktaknya, bersiaplah bahwa peluang untuk mendapatan seorang bangsat demokrasi sangat terbuka lebar, demokrasi bukan memilih kucing dalam karung demokrasi adalah penyampai amanah dari rakyat yang berharap akan adanya sebuah perubahan bukan sebuah kemelaratan.

Demokrasi bukan tempat mencari garong kekusasan, demokrasi bukan tempat untuk mencari orang-orang bejad yang akan duduk di kursi kekuasan, dan dalam sejarahnya demokrasi sedikitpun tidak mempersilahkan maling-maling pengambil kepercayaan rakyat untuk duduk berleha-leha ketika rakyat yang di bawah menderita, tetapi demokrasi menempatkan dan mecari orang-orang yang mau dan rela berkorban untuk kepentingan dan kemaslahatan rakyat banyak bukan golongan atau individu yang menjadi kepantasanya!!!


By : daripenulisuntukberbagi...

13/10/2010

Cecunguk Urban & Urbanisasi

KAUM URBAN DAN CECUNGUK KOTA
Oleh : anunkaseppasundan

Aku pernah datang ke kota ini lebih dari 20 tahun yang lalu, namun aku baru merasakan bahwa aku bisa tinggal hinggá beberapa waktu lama setelah 2 tahun ini. Bagiku Jakarta adalah garda terdepan dari bangsa ini untuk menampilkan diri di mata dunia bahwa indonesia punya kebanggan akan Ibukotanya. 

Jakarta adalah magnet terkuat yang menarik lebih dari sejuta mata untuk datang dan berharap akan sesuatu yang lebih baik. Jakarta seperti kota fenomena yang meng-sugesti setiap mata untuk turut serta hadir di dalamnya, Jakarta adalah ibarat emas yang menggunung yang menjajikan kekayaan dan sarat akan kekuasan, Jakarta adalah umpan terhebat bagi kaum urban yang berambisi meraih mimpi, Jakarta menjadi pemicu dari sekian puluh juta pasang mata untuk membuat sebuah rekayasa akan urbanisasi yang tidak di kehedanki. Dan semakin banyaknya dan tak terkedalinya akan urbanisasi ini menjadi corong gelembung bumerang akan reputasi sang gubernur untuk menata dan mengelola.

Namun semakin aku merasakan dimana aku tinggal, kenyaman dan kebangganku terhadap Ibukota semakin menipis walau kusadari bahwa sesungguhya aku bukanlah pednduduk asli atau bahkan lahir di Ibukota ini. Hilangnya kenyamanan akan kebangganku terhadap Jakarta dan setatusku sebagai kaum urban seolah kian menipiskan rasa semangatku untuk bisa merasakan sebagai perantau sejati seolah hilang tanpa kesan.

Kerakusan, ketamakan, dan kecokakan yang selama ini ada di benak para kaum borjuis yang mengekploitasi Jakarta, kini berbalik menjadi sebuah dilema yang tak berkesudahan, keindahan yang di gemborkan lewat pembangunan mall – mall besar, hotel – hotel berbintang dan gedung – gedung pencakar langit, dan pembangunan hutan kecil yang tak se-alami ternyata tak cukup menghilagkan panas dan berasapnya kota Jakarta, keadaan yang di buat sedemikian rupa hanya untuk mengejarkan keuntungan sesaat lewat pembangunan yang terus berlangsung tanpa memperhatikan kebutuhan bumi Jakarta itu sendiri akhirnya menjadi sebuah keniscayaan bahwa malapetaka akan kerusakan alam itu semakin nyata terasa, bajir, gempa, dan maraknya pendirian rumah – rumah kumuh, eksploitasi kemiskinan yang di tampilkan di jalanan semakin banyak, dan amblasnya beberapa daerah di sebagian Jakarta akibat erosi dan abrasi, hilangnya lahan resapan, dan karena kurangnya pengolaan sanitasi dan kurangnya perhatian akan keadaan air dan lingkungn di Jakarta semakin memperparah kedaan ini, tentunya keadaan ini menjadi rasa panik yang berlebihan bagi mereka kaum borjuis yang punya segudang kemewahan mall – mall besar, hotel berbintang dan gedung pencakar langit menjulang tinggi, dan kepanikan juga menyerang mereka para aparat birokrat seolah ketakutakan akan adanya kesan ketidak becusan dalam menjalankan dan megolala Jakarta semakin nampak.

Mata silih berganti memandangan gedung pencakar langit yang sulit didapatkan dari tempatnya berasal, dan hilir mudik kaum urban tak henti – henti membawa kisah antara manis dan pahit, cerita sukses beberapa pasang mata seolah menjadi pemicu kenapa mata yang lain ingin melirik untuk menyambangi, dan cerita pilu akan kerasnya kehidupan kota Jakarta menjadi anggapan seperti asap yang akan hilang dan berlalu. Padahal sesunggunya banyak kisah lebih pilu dan mengerikan dimana bisa saja yang kaya menjadi seorang pembunuh berdarah dingin ketika kemewahan yang dimikinya hilang dengan sekejap, karena di Jakarta ini banyak penjudi yang menggadaikan harga diri untuk mimpi yang belum pasti. dan di Ibukota ini menjadikan hal yang tak mungkin menjadi mungkin adalah hal yang lumrah, bagaimana tidak seorang gelandangan bisa menjadi seorang konglomerat jika ia mampu bertahan dan berusaha meraih mimpinya dengan kesabaran dan keuletan dalam bekerja, tinggal dimana posisi simiskin ini berusaha dan memilih apakah di jalan yang halal ataukah haram.

Aku sendiri memandangan bahwa Jakarta adalah etalase utama penyampai tentang bagaimana Indonesia di mata dunia, jika kesemrautan lebih besar maka tak lebih ia seperti kaca pecah yang tak terurus dan tikus kecoa seperti mall – mall, hotel berbintang dan gedung – gedung pencakar langit tinggi menjulang yang tak memperhatikan tata letak menjadi kotoran dalam keindahan sesaat, jika keadaan seperti ini terus dipelihara akan menjadi duri dalam daging dan cukup malukah dan  miriskah kita melihat bagaimana ketika mata dari negeri lain seolah sungkan untuk berinvestasi dan membeli, ”pikiran mereka jangankan ingin mampir, untuk melewati saja rasa – rasanya sungkan”. 

Jakarta akan menjadi kota yang percuma menjadi Ibukota saat keadaan yang semraut dan kemacetan merajalela dibiarkan tanpa ada solusi yang terbaik. Dan kesenjangan yang menguasai akan menjadi pamantik yang meledakan jumlah angka antara kehidupan simiskin dan sikaya. Dan budaya krinminalitas akan menjadi kultur yang tertecipta tanpa kesengajaan.

Bukan salah Jakarta sesunggunya tetapi kesalahan yang sesungguhnya adalah mata di dalamnya yang mengurus dan mengelola, Jakarta tetaplah indah baik dari nama dan ke Ibukotaannya, yang buruk adalah mata yang mengurus dan tak becus sehingga membuat kesan bahwa Jakarta adalah kota indah di atas kesemrautan yang menggila.  Mata – mata dari kaum urban akan terus berlangsung selama mata di dalamnya yang mengurus Jakarta tidak memberikan rekomendasi bagaimana dan dimana seharusnya para investor itu menanamakan modalnya, ke rakusan di benak para mata di dalamnya akan stigma bahwa Jakarta harus menjadi kota segala – galanya menjadi biang dimana adanya kaum urban itu terus bertambah. Jika sudah seperti itu siapakah yang salah kaum urban ataukah mata pengelola Jakarta?”” heum....


By : daripenulisuntukberbagi...

Manusia Linglung

JALAN BERLIKU UNTUK PRESIDENKU
Oleh : anunkaseppasundan

Diantara jalan yang panjang membentang, Indonesia sedang melewati sebuah jalan teramat berliku, dan terlihat bombastis saat satu isu melangkah menjadi seribu masalah yang kian mendera. Seperti gerimis yang tetes demi tetes, problematika dan corat marutnya tata pengelolaan masalah semakin menambah daftar panjang begitu negeri ini teramat sukar untuk di katakan sebagai negeri adem ayeum.

Keterpurukan negeri ini semakin nyata saat sang pemimpin tak lagi mempunyai hak legitimasi terhadap kewibawaannya, penghinaan, pengejekan, pe “ngeyelan” dari negeri sebrang di ujung sana, seolah hanya di anggap hal kecil yang tiada berarti. Sadar atau tidak sebenarnya bagi kami rakyat kecil hal seperti itu adalah perusakan kedaulatan akan kewibawaan pemimpin bangsa. Dan perusakan kedaulatan akan harga diri bangsa. Dimana rakyat tidak menginginkan pemimpinnya menjadi subjek perumpamaan dari hal yang konyol dan terkesan rendah. Namun tetap saja rasa tak peduli itu muncul dari diri sang pemimpin untuk menanggapi dengan keras hinaan dan plecehan tersebut, jika sudah seperti  ini. sesunggunya ke angkuhan dan kesombongan tersebut bukanlah milik Negeri yang di seberang sana tetapi milik sang pemimpin kita yang tak peduli dan tak mau mendengarkan akan emosi rakyatnya karena melihat dia, "pempimpinnya dan kedaulatan negaranya "menjadi objek cacian dan hinaan. 

Akhirnya anggapan akan kesimpulan terhadap sang pemimpin itupun muncul seperti aku dan sebagian rakyat lainya mengatakan “bagaimana mau peduli terhadap teriakan rakyatnya jika dalam dirinya saja di hina, ia acuh tak acuh untuk menanggapi”.

Jalan memang masih panjang, dan Indonesia butuh proses adaftasi akan kewibawaan bagaimana  Negara ini bisa lebih di hormati dan di segani di dataran Asia Tenggara atau bahkan level Internasional akan segala sistem dan kepemimpinannya. Namun jika di tengah perjalan setiap hinaan dan ejekan itu dianggap hal yang basi bukan tidak mungkin Negara kita akan tertahan dan terombang-ambing dalam kebingungan untuk menanggapi, karena tidak adanya ketegasan dari sang pemimpin untuk menyelesaikan hinaan tersebut, dan bukan tidak mungkin lagi jika kelembekan dan rasa ragu dan rasa seolah kita bergantung akan Negara penghina tersebut bisa menjadi batu sandungan untuk membangun kredibilitas dan kewibawaan, dan tentunya setiap plecehan akan terus berulang dan berulang. Karenanya jangankan untuk berperang menggertak saja sudah tidak berani, maka tak heran jika Negeri seberang di ujung sana ibarat anak kecil yang tak mengerti dan dengan kengeyelanya akan terus berulah.

Setiap kali berpidato dengan kegagahanya dan tuturkatanya yang teratur. Dan dengan kewibawaanya di mata para bawahnya ia sesekali menguraikan pentingnya menjaga sebuah eksistensi keutuhan NKRI. Dan NKRI adalah harga mati. Pertanyaanya, bagaimana mungkin kita bisa menjaga keutuhan akan kedaulatan jika di dalam diri sang pemimpin saja tak bisa melawan akan hinaan dan ejekn tersebut. Bila keadaan seperti ini terus di pelihara maka tak ubahnya persidangan demi persidangan, dan pidato demi pidato seperti ini adalah ritual pamer kewibawaan.


Ketika satu satu isu menjadi sesuatu yang ramai di perbicangkan, dan ketika isu itu pula membuat gerah para pemimpin yang cenderum ragu dan banyak pertimbangan, maka jawabanya adalah meredam, agar gejolak yang ada di harapkan tidak mengusik lagi, jawaban untuk meredam bukanlah sebuah gertakan tetapi dengan menonjolkan sebuah simbol kenegaraan yang berbau kemiliteran, walaupun sesunggunya bahwa antara tempat yang dipilih dengan isu yang akan di jawab sungguh berbeda jauh dan jauh dari yang di harapkan. ke adaan seperti ini tak lain adalah cara berpikir yang membingungkan, kalau sekiranya momentum untuk menjawab sebuah isu yang krusial namun hanya sebatas pidato yang datar-datar saja alias normatif lebih baik berpidatolah di rumah bukan di barak militer yang konotasinya terkesan menggelorakan perang.


(Editan belum sempurna)

30/09/2010

Bendera 1/2 Tiang

“CELOTEH, CANDA ATAU KESERIUSANKU"
Oleh : anunkaseppasundan


Hari ini ku gantungkan sepatu sebagai pertanda bahwa aku sedang berduka, tanpa ku pasangkan sebuah bendera di halaman depan rumahku karena memang di rumahku tak ada tiang untuk memasangkannya, maka sepatu bagiku adalah pengganti sementara dari rasa dukaku, tak ada maksud untuk menyamakan antara sepatu yang kugatung dengan sebuah bendera apalagi itu sebuah bendera yang menjadi lambang dari negaraku. Aku menggantukan sepatuku yang sudah bau terasi dan kusam itu karena merasa bahwa saat itu cuku pantas untuk menggambarkan betapa dukanya hatiku hari ini melihat boom dimana-mana, bukan boom buatan teroris yang terkordinir dan terencana boom ini jauh lebih bahaya dari boom yang biasanya, boom ini dimiliki oleh hampir seluruh penduduk negeri ini. Dan aku melambangkan kedukaanku dengan menggantungkan sepatu sebagai tanda atas keprihatinanku akan tulinya para penguasa di negeri ini.

Banyak yang berasumsi dan berpikir bahwa ini adalah ledakan terakhir karena dari tv banyak komentar dari para penyebar boom bahwa semua akan di usahakan untuk tak terjadi lagi, heheheee aku sich senyum-senyum saja mendengar dan melihat tayangan di tv tadi, bagiku kejadian hari ini adalah rentetan yang akan berkelanjutan, ‘bagaimana mungkin aku bisa sampai berpikir seperti itu kalau bukan tanpa alasan?”” heum…..

Sebenarnhya kejadian hari ini adalah kejadian basi bagiku, semenjak berita tentang ada seorang ibu yang mengantarkan anaknya ke istana untuk meminta pertanggung jawaban dari pemimpin, nach lho kenapa?”” sumber dari media menyebutkan bahwa seorang ibu kesal karena anak semata wayangnya adalah korban dari kebijakan penguasa yang terlalu memaksakan kehendaknya tanpa memikirkan dampak dan melihat sejauh mana masyarakat kita pintar untuk bisa cepat memahami program dan penggunaan benda yang kusebut sebagai boom itu, hah” sekali lagi kita harus berduka karena setelah kejadian anak yang terkena ledakan tersebut di lain waktu ada lagi yang menjadi korban, selang beberapa hari ternyata dugaanku benar” betul saja sebuah harian Koran nasional memberitakan bahwa satu rumah dan hamper saja satu keluarga tewas tertimpa atap rumah di beritakan para korban luka hamper tertimpa bangunan yang roboh karena adanya ledakan dari sebuah kompor yang katanya lebih canggih dari minyak tanah” oya”,… emang sich canggih tinggal di putar langsung nyala selain itu ga terlalu ribeut karena cukup praktis, itu sich katanya?” yach aku lihat juga bentuknya cukup imut dan lucu, para pembuat kebijakn bilang beratnya katanya hanya 3kg, tapi  ketika aku angkat sepertinya banyak kurangnya, Hah! aku berfikir bahwa Penguasa sudah menjadi anggota dalam dunia kebohongan. 


Aku bisa saja menggatungkan bendera setengah tiang bahkan setengahnya bisa lebih tinggi dari bukan bendera setengah tiang bila yang keduakaanku adalah tentang meninggalnya beribu rakyat korban ledakan boom si imut 3kg. dan aku lebih merasa berduka saat kulihat rakyat yang menjadi korban dari kebijakan yang di paksakan, daripada harus berduka pada penguasa yang meninggal dunia tetapi tak pernah memikirkan keluhan rakyat saat dimana ia mempimpin dengan ke sombongannya memelihara sifat acuh. Dan kejadian hari akhir-akhir ini sama persisnyha dengan pemimpin yang sudah mati isi hatinya, bahkan berkali-kali demo dimana-mana meminta program kebijakan konversi ini untuk di hentikan, tetapi kegelapan yang menyelimuti para penguasa ini telah menutup atas segala fakta yang terjadi di lapangan heum…

Yach namanya juga anjing menggonggong kafilah berlalu kebijakan ya kebijakan korban ya korban, buat penguasa semua bisa di atur tinggal di beritakan saja “bahwa semua sudah untuk mengurangi subsidi” beres dech urusan, yang pentingkan tenang untuk sementara waktu dari pada pusing menanggapi rakyat yang terus mengeluh, (kilah peguasa)””. Duka dan tangis dimana rakyat jadi korban dan meninggal sia-sia karena ulah konversi yang di paksakan, belum beres satu berita sudah ada lagi berita di radio terjadi ledakan dan korban 1 orang meninggal akibat si bentuk imut 3kg. “ya Tuhan”… sampai kapankah akan terus berulang, rasa-rasanya makin gerah saja badan ini mendenngar berita dimana-mana tentang korban ledakan, lebih gerah dan membuat  aku panas adalah  yang membuat kebijakan cuma bisa ngomong dan menyalahkan “tolong bawahan di realisasikan lagi cara penggunaannya”, dan si pembuat tabung imut 3kg juga sama sekali hilang muka alias dalam artian hilang malu.

Ketika satu peristiwa terjadi untuk kesekian kalinya,  maka rencana untuk beriklan tentang sebuah realisasipun mulai di lakukan lagi dan kampanye bahwa semua harus sesuai prosedur pemasangan ramai menghiasi sarapan pagi dalam sebuah berita, dan ketika berita ledakan itu redup sekonyong-konyong redup pula pemberitaan tentang iklan realisasi, begitulah cerita klise di negeri ini yang ramai ketika ramai dan sepi ketika sepi. Aku berduka untuk rakyat yang menjadi korban dan aku berduka akan tulinya pembuat kebijakan.

Para pembuat kebijakan hanya bisa berbasa-basi, mereka tak pernah merasakan bagaimana rakyat selalu khawatir ketika harus menyalakan si imut 3kg, makanya bagaimana akan sensitif terhadap keluhan rakyat kalau yang terjadi adalah bahwa para penguasa tak pernah belajar untuk mersakan was-wasnya menyalakan api dari si imut 3kg.
Hehehee…


By : daripenulisuntukberbagi...