22/07/2014

Jadi Retorika

Kegagalan yang tertunda, untuk merubah dan membawa semua, membiarkan seperti apa adanya saja, nikmati dan ikuti kembali, serta berusaha mengerti dan membiarkan yang baru tetap tabu dan yang dulu tetap di nanti dan melihatnya kembali di jalani. Kemajuan menjadi sesuatu yang menyeramkan karena adanya berbagai kepentingan, keserakahan dan ketakutan, langkah menjadi stagnan cita2 jadi impian, api kebimbangan menyala di kegelapan malam dan dilema menjadi peneman dalam kesepian, selamat datang era tiada harapan dan keputus asaan

Gagasan menjadi retorika, ide menjadi wacana semua karena satu cerita "tentang ambisi yang tanpa arti"

01/05/2014

Waktu Terbuang

Jakarta bawakan aku
untuk duduk pada kursi hebat
pada singasana hebat
di antara orang-orang hebat
bertemu orang hebat

Bukan para pejilat
bukan pengkhianat
dan penjahat

Naik bis kota
Bogor-Jakarta
Jakarta-Bogor

Aku datang mencari uang
sabtu malam minggu ku pulang
tanpa tahu nasib di depan
mau jadi apa dan seperti apa
ibarat umpan perjudian
aku hanya berjalan mengikuti aturan
tanpa ku sadar telah kelelahan

Kadang ku pulang
tanpa sehelai harapan
hanya impian dan hayalan
yang menjadi buah tangan

01/04/2014

Ruang Dilema

Hati yang terkikis luka
menuntun mata mematahkan asa

Engkau yang lantang padai berdusta
membuat kaku lidah jadi tak bernyawa
oleh derai air mata dusta yang menjadi tabir kepalsuan
di antara sekian kepecayaan yang telah di persembahkan
hinakan aku dalam kepahitan hidup
hingga ku tak bisa lagi melihat
antara mana yang lurus dan buntu
karena begitu banyak tipu yang bertumpu …

Setelah di sadari
Jalan yang kupilih
penuh tumpukan cerita yang menyesakan
 
Sampai akupun menitipkan masa
padanya raja dunia
yang tak bertepi hingga saat ini
padanya ku berkata sampai kapan …
kan tehenti

Tuhan takdir ketetapanmu
yang tak kunanti
telah sampai
hingga hari ini

01/03/2014

Hukum Rimba

Api menyala, Tandakan masa era
membawa pesan tentang mereka yang menjadi abdi
pada negeri yang penuh sampah manusia celaka

Mari bercerita tentang jeda
Hukum Rimba

Sebutir peluru berdesing
menjadi penanda bagi mereka yang berkuasa
agar sang jelata tahu
ini era, eranya rimba

Di bawah kaki para penjilat tahta
di antara tahta ada wanita
dan sang durjana ada di antara ke dua-duanya

Bagi mereka pemuja kuasa
nafsu birahi dan korupsi
adalah suci
yang layak untuk di perjuangkan
dan di transaksikan
bila perlu todongkan sejata
pada siapa yang kontra

Bagi mereka pemuja kuasa
hidup adalah kesenangan
maka tak perduli berapa si jelata yang melayang
yang penting perut kenyang
harta bergelimpangan

Bagi mereka pemuja kuasa
ketika kursi hilang dipandangan mata
maka senjata akan berkata
untuk menebus berapa mahar untuk mengembalikannya

Bagi mereka pemuja kuasa
dosa adalah nomor sepersekian juta
yang pertama adalah dunia
asal hidup tidak sengsara
tak peduli jaman menjadi durjana

26/02/2014

Malam ...

Malam ....
malam yang sunyi senyap 
membawa kegelisahan yang tiada henti

di antara hati yang masih bergelimang kegundahan 
aku duduk termenung menghadap cermin 
yang menjadi tempat penghias diri
di kala suntuk disenja terbawa duka
dikala hati lara yang terurai air mata
karena ingatan suatu peristiwa
hatiku sama persis seperti wanita oleh karena aku manusia
yang bisa merasakan adanya air mata karena rasa kecewa

duhai malam sehebat bulan purnama 
yang tertutup awan mendung
dan menjadikannya gelap karena masa dan waktu
beri ruang untuku berkata-kata
sebagai pengiring langkahku 
melangkah meninggalkan semua yang terluka perih 
oleh iba yang terpana

duhai malam yang berkabut 
kabarkan dukaku pada DIA
yang menjadi sandaran cinta 
pada jiwa yang merana 
pada benak yang terpejara 
oleh cinta
oleh rasa yang menyiksa .....

duhai malam
aku ingin merasa 
pada hal yang biasa dan sewajarnya 
seperti mereka merasakan bahagia 
tanpa paksaan dan sandiwara 
berjalan beriringan
layaknya mereka di kehidupan kedua 
menjalani hari-hari penuh tawa suka, duka dan cita

duhai malam yang gelap gulita
dan bulan purnama 
yang seharusnya terang tertutup awan hitam
membawa abu menjadi ragu
hingga tiada kulihat di antara gelap dan terang 
mungkinkah bisa tuntun aku harus bagaimana dan seperti apa 
mana yang harus aku pilih
di antara dua mata yang berbeda 
antara mereka yang meminta dan aku yang menjalaninya ...

01/01/2014

Surat Suara

Suara 
mata-mata merah silih berganti 
mengharap dan di harap mereka terpilih
apa yang menjadi ambisi 
oleh mereka para pengabdi kuasa dan ironi

Suara 
pada satu kursi tanpa arti 
pada satu visimisi yang cukup basi
pada satu kertas berharap mereka duduk menjadi tuan 
di negeri mereka mencari keuntungan
hingga pengorbanan di bayar dengan satu kesempatan 
merongrong kekuasaan yang menjadi sandaran 
untuk berlindung mencari keselamatan 
yang lupa akan teriakan dan jeritan 
akan aspirasi dari kita yang menitipkan

Suara
pada masa tiba mereka di ketahui 
terkontaminasi penyakit korupsi 
yanng menggila
hingga dunia bisa membaca
bahwa ada yang alpa pada tanggung jawabnya

Suara 
pada partai mereka terbelit 
antara kepentingan dan perjuangan 
untuk memilah pada satu pilihan 
mana kroni
mana pribadi
mana hak yang halal dan hakiki
hingga suram melihat yang haram

Suara 
namun di antara mereka lebih besar pada kesesatan duniawi 
hingga mereka ingkar pada amanah yang di bawanya
karena uang yang menjadi pemicunya
maka tibalah kita merasakan apa yang menjadi kedustaan
atas apa yang pernah di ucapkan
bahwa mereka terpilih
karena pesannya
untuk mengabdi dan berbakti
pada rakyat dan ilahi rabbi
bukan pada nafsu untuk memperkaya diri 
bukan pada dirinya pula kita mengantarkan ilusi
bukan pula pada mereka yang payah membawa diri ...

01/03/2013

Perang

Wajah-wajah durjana berlalu lalang
Membawa tatap menatap yang menakutkan
Seorang anak hingga terperangah kepanikan
Karena todongan sejata yang pasti mematikan

Siang bolong yang begitu ramai oleh dengungan
oleh bara api yang yang membuat langit dunia seperti arang
yang membuat angin terasa sesak untuk di hirup
yang membuat mata berair
karena satu jawaban ketika itu 

adalah di percaya akhir dari setiap PERADABAN!!!

Mayat-mayat bergelimpangan
bau anyir darah menepis keraguan bahwa bakal adanya kedamaian
karena setiap satu letupan terdengar satu mayat berjatuhan
yang menjauhkan manusia dari nurani 

tentang
saling asih mengasihi
saling sayang menyayangi
saling menjaga dan menjagai
dunia dan manusia ketika itu seperti hilang jati diri
semua terlihat bak materi yang bisa di beli untuk hilang dan tak berarti

Sang ibu dan anak yang meronta dengan tangisnya
sang bapak yang berteriak karena kehilangan istri dan anak-anaknya
mereka menjadi generasi pengakhir
untuk tumbuh dengan dendam bersama 

bersemai di hati para mereka pencari
keadilan siapa yang melakukan ini
siapa yang memulai kata-kata 

tak mau mengamini untuk tutup dan rendah diri
menerima setiap persoalan menjadi sebuah kesepakatan bicara dalam
satu waktu atas nama kedamaian dunia.

Siapa yang memulai semua ini karena satu ego
semua bangsa saling bunuh diri
saling serang menyerang menyaingi
hingga lupa dalam satu tempat 

ada manusia-manusia seperti kami rakyat biasa
yang merbodal anggukan dari pemerintahnya
yang menolak dengan berat ketika perang di kobarkannya
yang cuma kebingungan ketika semua sudah di putuskan
apa yang akan kami lakukan setelah apa yang sudah di dengarkan
Bahwa akan ada satu peristiwa dimana ucapan tak lagi di dengarkan
hingga negara lupa kepada kami untuk apa semua ini
Yang tak tahu higga hilang menjadi korban 

karena desingan peluru sebagai pengganti diplomasi